music review

Kammarheit – The Nest

kammarheit_thenest

Sedikit review (telat) album The Nest milik the Almighty Dark Drone Ambient, Kammarheit. Apa yang anda bisa lihat sekilas tentang album ini? Suram? Sedih? Kelam? Melankolis? Ya… Semua hal yang menyangkut kata-kata tersebut memang dituangkan di dalam album The Nest milik Kammerheit yang satu ini, sudah bisa ditebak dari cover albumnya yang menampilkan kira-kira sebuah bukit berkabut. 🙂

Ada kesedihan yang begitu mendalam pada album ini yang berjalan pelan didalam kelabilan yang menyelimuti kesuraman di tiap detiknya. The Nest adalah album dark(ish) ambient yang (selalu) memberikan materi solid sehingga tiap pendengar khususnya saya akan bertanya-tanya dan tidak hentinya berpikir kesuraman apa yang akan terjadi selanjutnya di tiap track. Bagi saya, semua tentang kesuraman yang terdapat pada tiap nada, seakan berjalan pelan bagaikan angin yang berhembus dan menusuk di keheningan malam, itulah gambaran musik Kammarheit yang telah kembali setelah berdiam diri selama satu dekade dan kini telah kembali menyambung susunan kepingan puzzle yang telah mereka ciptakan dahulu kepada penggemarnya (ter-khusus saya).

Banyak orang yang berpikir bahwa mereka dapat melindungi orang-orang yang mereka cintai dan mengabdikan dirinya untuk melindungi mereka terhadap semua bahaya di sekitar mereka, tetapi ketika garis antara kasih sayang dan obsesi disilangkan dan saling berlawanan??? begitulah sepintas kurang lebih gambaran/ perumpamaan materi yang dituangkan pada album ini. Tidak ada aura kemarahan atau apapun yang terbakar disini, tapi apa yang dapat anda dengar disini adalah suatu refleksi pendekatan yang tampaknya berdiri menatap anda kembali dari waktu ke waktu. Ini sebuah rancangan kesesakkan yang dibangun untuk memaksa sesuatu yang tersembunyi muncul ke permukaan. Sesuatu yang selalu dijalankan mereka lewat karyanya, namun kali ini tampaknya dengan hal baru yang belum pernah dituangkan pada karya-karya terdahulu. Bisa dibilang, Kammarheit telah menciptakan album ini buat para penderita insomnia dengan nada samar-samar yang datang dari masa lalu, ke masa kini… dan menghilang. The Nest dirancang untuk  memperluas selera anda sejauh yang sudah anda dengar selama ini, seolah-olah apa yang telah disimpan kini siap diterbangkan ke udara.

Waktu ini adalah waktu yang paling luar biasa bagi para penggemar Kammerheit (bila ingin mempertegas) tapi jangan pernah berpikir mereka melakukan semuanya dengan mudah. Seperti album sebelumnya, ada tema untuk di eksplorasi tapi bukan suatu yang menyenangkan dan ini bukanlah suatu yang tergesa-gesa. Dan setelah sekian lama, style yang mereka ciptakan terus berevolusi ke arah yang semakin baik dengan musik yang bisa dibilang semakin sunyi dan sepi. Jika anda memiliki selera musik ambient yang tidak terlalu gelap, maka cobalah album yang satu ini. Di jamin selera anda akan berubah setelah mendengarkan The Nest.

Track Listing :

1. Borgafjäll
2. Unsealed
3. Lower Halls
4. The Howl
5. Sphaerula
6. Hypogaeum
7. The Nest
8. Sung in Secret
9. Aeon

Advertisements

Mystical Future (2016) by Wildernessking

3540340820_photo

Wildernessking adalah band atmospheric black metal yang berasal dari daratan Cape Town, Afrika Selatan. Yah… band yang jauh dari pandangan kita pada hari ini, ternyata memiliki cukup amunisi mematikan untuk men-sejajarkan diri dengan band-band black metal top lainnya. Berdiri dengan nama Heathens, mereka mengusung tema musik black n ‘roll. Materi awal pada album pertama mereka secara eksplisit mengingatkan kita pada musik Enslaved namun dengan nuansa sedikit progresif ke Norwegia-an.

Pembuatan materinya dibuat dengan ringkas dan riffy, kalimat “atmospheric” yang tak terlintas dibenak saya-setidaknya sampai mereka merilis lagu “Morning” di tahun 2011. Pada tahun 2012, era baru dimulai ketika mereka mengubah nama band menjadi Wildernessking, merilis album perdana yang berjudul The Writing of Gods in the Sand yang menebar sound mereka ke arah yang lebih luas (baca: global). Rilisan ini membantu menyeimbangkan musik mereka antara komposisi raw, tone black metal dan konsep-konsep lain yang lebih mendalam guna menambah atmosfir gaya musik mereka.

Oke cukup intermezzo-nya 🙂

Dan, di awal tahun 2016 ini mereka pun telah mengeluarkan album kedua berjudul Mystical Future sebagaimana yang menjadi topik utama kita dalam blog saya ini-suatu proses petualangan baru yang akan mewarnai karir mereka ke depan dalam mengambil langkah yang lebih jauh, penekanan ke arah black metal yang lebih mendalam namun cathcy, materi yang bisa dibilang dewasa dengan sound yang di sedikit banyak mengarah ke tempo yang lebih lambat. Album ini menunjukkan ‘sedikit’ style Heathens dalam musiknya, sementara unsur dalam The Writing of Gods in the Sand masih cukup agresif bergelagat didalamnya, Mystical Future ditulis bagaikan kobaran api yang bergerak lambat.

Sound yang luas diserang oleh suara drum dan gitar dengan tempo lambat sebagai latar-dimana amunisi drum dari Jason Jardim yang paling jelas dalam demonstrasi ini. Ini berarti ketika musik mereka mencapai puncaknya, sound yang mereka miliki tidak akan pernah lepas dari unsur raw dan agresif black metal yang menggeliat. Dan bahkan ketika memperhatikan gaya vokal Keenan ke belakang, ia seperti meneriakkan liriknya tanpa microphone. Sound yang luas ini seolah-olah seperti menahan speed pada tempo musik mereka. Wildernessking membuat materi yang mencapai sisi ke-epic-an serta menyayat hati-yang serta merta mengingatkan materi terakhir band Anathema. Track penutup “If You Leave” yang menghadirkan suara halus oleh seorang wanita yang memberikan kesan epic yang mencapai puncaknya dalam menutup rentetan track terakhir. “With Arms Like Wands” menghadirkan varian blast dimana diisi oleh penggabungan beberapa kepingan-kepingan berbeda menjadi sesuatu yang terlihat lebih heavier dan intens-seperti pukulan butiran hujan yang turun kebawah, bayangkan itu. Track “If You Leave” yang menghadirkan copy-an nuansa menit pertama dari materi album Moonsorrow Varjoina kuljemme kuolleiden maassa yang membuat track penutup ini terdengar lebih suram dan melankolis. Lalu ada track “I Will Go To Your Tomb” yang terdapat sedikit unsur musik Heathens ataupun Enslaved sebelum masuk ke tempo yang sedikit lebih dinaikkan. Mystical Future menghadirkan sisi atmosfir Wildernessking yang begitu dalam dengan sentuhan yang begitu fantastis nan elegan; ada saat seperti rehat dalam meditasi, saat pecah dan sedikit getaran kencang yang berputar dihadapan anda-terutama pada betotan bass Keenan dan dentuman drum Jason berjalan bersama-sama. “To Transcend” menutup side A dengan potongan nuansa instrumental, melankolis dan indah, yang terdengar lebih ke Alcest daripada Enslaved.

549754

Side A
1. White Horses
2. I Will Go to Your Tomb
3. To Transcend

Side B
4. With Arms like Wands
5. If You Leave

Mystical Future adalah sebuah katalog menakjubkan yang pernah ada di muka bumi. Materi pada album ini sedikit sulit untuk di kompare dengan karya mereka sebelumnya The Writing of Gods in the Sand-meski ada beberapa alurnya ada dalam album ini. Ironisnya, band ini mengambil hal-hal yang saya pikir menjadi kelemahan dalam album awal mereka, tapi nyatanya mereka malah membuatnya dua kali lipat lebih dari yang kita pikirkan-mereka membuat materi yang memiliki sentuhan musik Moonsorrow dan October Falls (band yang memiliki kemampuan menavigasi pusaran lagu-lagu dengan durasi panjang mencekam).

Mystical Future mendarat di suatu tempat yang halus dan kasar yang berpotensi menghancurkan, yang tampaknya menjadi sesuatu persis yang Wildernessking ingkinkan. Lalu, apakah kemudian album ini menjadi salah satu rilisan yang paling terbaik di sepanjang tahun ini? Kita lihat saja nanti! Graciassss 🙂

Top 7 Metal Albums 2015

banner2015.jpg

 

Hello folks!

Watca’ doin’ there?  Hope you enjoy this time…

anyway.. langsung saja yah, saya mau share beberapa album metal yang menurut saya paling oke di sepanjang tahun 2015 ini. Mungkin teman-teman sudah ada yang dengar atau menyimak salah satu atau bahkan semua dari album-album tersebut? Silahkan beri komentarnya juga disini sekalian *ngomong sama malaikat di langit* 😛

 

*Check this out my man!!!*

 

7. Ygg huur (Krallice)
Kualitas Colin Marston tidak perlu diragukan lagi bersama Gorguts, pun begitu menurut saya bagaimana ia memainkan perannya di Krallice. Album ini adalah salah satu rilisan yang menyita perhatian saya tahun ini. Beberapa bagian yang mungkin hilang sebelumnya kemudian dilengkapi pada album ini: atmosfir, karakter dan penekanan musik black metal itu sendiri menjadikan album rilisan terbaru mereka menjadi lebih komplit nan elegan.

525089.jpg

1. Idols
2. Wastes of Ocean
3. Over Spirit
4. Tyranny of Thought
5. Bitter Meditation
6. Engram

6. Autumn Eternal (Panopticon)

Setelah mendengar album ini secara keseluruhan, satu hal yang jelas – Lunn jarang terdengar sebergairah ini tentang musiknya berdasarkan interview yang saya lupa waktu itu melihatnya dimana. Inspirasi dari musik klasik hingga ke shoegaze menjadi senjata racikan ke dalam album ini. Satu hal yang mengingatkan kita bahwa energi dan passion pada musik ini tidak selalu datang dari hal-hal buruk.

0006143208_10.jpg

1. Tamarack’s Gold Returns
2. Into the North Woods
3. Autumn Eternal
4. Oaks Ablaze
5. Sleep to the Sound of the Waves Crashing
6. Pale Ghosts
7. A Superior Lament
8. The Winds Farewell

 

5. Luminiferous (High On Fire)

Band yang satu ini telah bekerja keras dengan baik dalam mempertahankan konsistensi bermusiknya, hal itu tak terbantahkan dan kita bisa melihat dari album dan sepakterjang mereka sampai saat ini. Setelah sukses dengan album sebelumnya De Vermis Mysteriis, kini Mike Pike Cs kembali memberikan angin segar lewat album yang tak kalah menariknya Luminiferous. Track seperti “The Cave”, “The Sunless Years” dan “Carcosa” bisa dibilang beberapa track jagoan yang mungkin bisa kamu dengar dalam album ini.

505054.jpg

1. The Black Plot
2. Carcosa
3. The Sunless Years
4. Slave the Hive
5. The Falconist
6. Dark Side of the Compass
7. The Cave
8. Luminiferous
9. The Lethal Chamber

 

4. A Umbra Omega (Dødheimsgard)

Mungkin tidak sedikit dari kita yang tahu bahwa Dødheimsgard adalah satu dari beberapa band yang tersisa dari era black metal gelombang kedua. Fenriz (DARKTHRONE), Apolloyn (AURA NOIR) dan Galder (DIMMU BORGIR) dan (OLD MAN’S CHILD) adalah nama-nama diantara mereka yang berpengaruh didalamnya. Namun pada tahun 1999, mereka memutuskan untuk lebih bereksperimental meski tetap dalam konteks black metal yang sangat kuat. Dan apa yang telah mereka lakukan untuk album ini adalah sebuah kualitas yang sangat apik yang dikemas dalam nuansa yang lebih fresh. Dødheimsgard adalah salah satu band black metal yang paling menarik untuk dinikmati saat ini dan mereka sangat baik dalam membuat tone yang punya idealis karakter, melodrama dan emosi yang tertuang didalamnya serta sebagai pentolan, mereka sangat pantas menjadi influence buat band lainnya.

91v7R9-zEqL._SL1500_.jpg
1. The Love Divine
2. Aphelion Void
3. God Protocol Axiom
4. The Unlocking
5. Architect Of Darkness
6. Blue Moon Duel

 

3. The Anthropocene Extinction (Cattle Decapitation)

Layaknya anggur yang baik, sound mereka tampaknya semakin matang dengan berjalannya waktu. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah apa yang album ini berikan cukup menarik. Gaya musik dan beberapa unsur yang unnatural bisa kita temukan pada album ini. Contoh yang mungkin kita bisa rasakan dibeberapa lagu terdapat unsur seperti black metal (terutama lagu “Apex Blashphemy”), groove metal bahkan sampai unsur melodic death juga dapat kita rasakan disana. Meski sebelumnya tidak sedikit orang yang pesimis dengan album ini karena hal-hal yang tadi, juga karena album mereka yang sebelumnya memang sangat banyak diapresiasikan lantas orang menjudge album ini akan tidak se’wah’ Monolith of Inhumanity. Tapi nyatanya? silahkan nilai sendiri.

512105.jpg
1. Manufactured Extinct
2. The Prophets of Loss
3. Plagueborne
4. Clandestine Ways (Krokodil Rot)
5. Circo Inhumanitas
6. The Burden of Seven Billion
7. Mammals in Babylon
8. Mutual Assured Destruction
9. Not Suitable for Life
10. Apex Blasphemy
11. Ave Exitium
12. Pacific Grim

 

2. Monotony Fields (Shape Of Despair)

Finally akhirny mereka merilis full-album setelah terakhir thn 2004. Album ini bagi ane jelas lebih baik dibanding 3 album terakhir sebelumnya. Monotony Fields bisa dibilang sebuah album masterpiece untuk band funeral doom dengan atmosfir, melankolis, aura doom dan keindahan sound yang di mix jadi satu. Jka kamu duduk di ruang gelap dengan menyalakan beberapa lilin lalu menetap disana beberapa jam dan ternyata kamu menikmati keadaan itu dalam aura atmosfir terawang-awang diantara sound doom yang menyenangkan dimalam hari. Selamat, berarti kamu adalah salah satu penggemar sound funeral doom ala Shape of Despair.

506491.jpg

1. Reaching the Innermost
2. Monotony Fields
3. Descending Inner Night
4. The Distant Dream of Life
5. Withdrawn
6. In Longing
7. The Blank Journey
8. Written in My Scars

 

1. Sleep at the Edge of The Earth (Wilderun)

Seriously… album yang satu ini sangat direkomendasikan banget buat kamu para pecinta musik folk metal. Sejak menit pertama dan terakhir kita disuguhkan atmosfir bak sebuah perjalanan didalam dunia fantasi, intro di awal pada album ini memberikan sebuah tanda bahwa perjalanan panjang telah terpapar luas didepan lewat track pembuka Dust and Croocked Thoughts dan akan diakhiri dengan sebuah tanda penutup yang begitu manis lewat track Sleep at the Edge of the Earth. Passion yang dihadirkan untuk genre bertajuk folk sangat terlihat jelas di dalam penulisan lirik, alur dan proses rekaman pada album ini, sehingga semuanya benar-benar bekerja sebagaimana mestinya dimana pada saat ini kebanyakkan band-band folk metal jarang yang menampilkan konsep novel yang begitu mendalam, sementara Wilderun menampilkan keyakinan tentang hal itu dan lewat sound yang dibungkus dengan unsur symphonic yang menambah kesan folk yang begitu mendalam, yah band asal Boston ini benar-benar serius mendalami genre musik yang mereka ambil. Tiap-tiap elemen folk itu terasa lebih epic dimana instrumen seperti: mandolin, melodica, dulcimer dan banjo melengkapi suara-suara khas folk Wilderun, dan saya tak ragu lagi menempatkan album mereka di posisi teratas ditahun ini. Well done, guys! YOU SHOCKED ME A LOT…!

492322.jpg

1. Dust and Crooked Thoughts (instrumental)
2. And So Opens the Earth (Ash Memory Part I)
3. Hope and Shadow (Ash Memory Part II)
4. Bite the Wound (Ash Memory Part III)
5. The Faintest Echo (Ash Memory Part IV)
6. The Garden of Fire
7. Linger
8. The Means to Preserve
9. Sleep at the Edge of the Earth (instrumental)

 

Oke guys, bagaimana? kira-kira menurut kalian apakah ada album lain yang pantas direkomendasikan sebagai album terbaik tahun 2015 ini selain album-album yang tercantum di atas? ayoo share disini gan… *ngomong sama malaikat lagi* 😛

 

 

GRACIAASSSSSSS ##$$&%^*%%%(

 

Siapa itu Helheim? dan preview album “raunijaR”…

n18719

Courtesy of google

Saya cukup yakin dengan apa yang saya percaya ini bahwa band yang satu ini adalah salah satu band underrated di planet bumi, Helheim. Ya, band asal norwegia ini mengusung tema Viking ke dalam musik mereka dan membalutnya ke dalam musik black metal. Yang saya ketahui, dipertengahan tahun 90an tidak begitu banyak band black metal norwegia yang memiliki latar, sound dan tema tentang Viking yang begitu kental seperti band Helheim. Dan juga, saya yakin tidak banyak band diluar sana yang menggabungkan instrumen Harpa/ kecapi khas orang Yahudi dan tiupan terompet pada latar untuk mempertegas dan memberikan atmosfir mitologi norse yang sangat kuat dan sakral ke dalam musiknya seperti yang telah dilakukan oleh Helheim. Cerita itu berawal di tahun 1992, ketika itu V’gandr dan H’grimnir memiliki satu ide yang sama yaitu membuat musik metal. Namun tidak lengkap rasanya jika memainkan musik metal tanpa seorang drummer, lalu tak lama kemudian kehadiran Hrymr (drum) melengkapi formasi Helheim saat itu. Pada awalnya, saat itu mereka sangat menggebu-gebu akan musik yang mereka ciptakan lalu dibawakan pada acara musik lokal dan meski tanpa banyak pengalaman, mereka tidak takut untuk masuk ke stage. Helheim telah tampil dibeberapa festival di Bergen pada awal karir mereka dengan membawakan beberapa demo yang telah mereka buat (“Helheim”, “Niðr ok Norðr liggr Helvegr”). Helheim telah berusaha semaksimal mungkin dalam melakukan pergerakkannya lewat musik yang mereka usung lewat beberapa demo dan rilisan album yang telah mereka telurkan, serta telah membangun suatu karakter musik yang menggambarkan tentang bagaimana sesungguhnya dunia mereka.

Setelah 20 tahun berjalan dan berkembang, Helheim telah merilis album ke delapan mereka, raunijaR. Mungkin anda tidak pernah tahu apa yang dapat kita ekspektasikan dari setiap rilisan Helheim dan begitupun pada album raunijaR. Dengan begitu, ini saat yang tepat untuk menikmati kembali peluru yang telah mereka ciptakan.

Di satu sisi, bila kita amati konsep album Helheim secara keseluruhan adalah suatu konsep album berkelanjutan dari satu rilis ke rilisan lain; salah satu yang selalu berkembang disini bisa berupa bentuk sound dan juga bagian dalam suatu elemen cerita dalam lirik. Dengan album raunijaR di tahun 2015 ini, kita juga dapat melihat konsep musik yang berkelanjutan itu secara jelas. Misalnya dapat kita dengar pada opening track “Helheim 9” yang jelas berkaitan dengan bagian yang telah dimulai pada album EP Terrorveldet (1999). Di album raunijaR ini juga kita bisa melihat lanjutan quadrilogy “Asgards Fall” yang bagian sebelumnya dapat kita dengar pada album EP Asgards Fall (2010). Dan sesuai dengan konsep album raunijaR ini yang terdiri dari 5 track berdurasi kurang lebih 40 menit, kita seperti disuguhkan full-length album yang berkonsep ‘EP’ dengan mode classy namun tetap dengan materi yang solid.

 

Helheim-2.jpg

Courtesy of google

Apa yang dapat dirasakan pada track “Helheim 9” sebagian besar bertumpu pada clean-guitar yang begitu menonjol. Terutama, sound yang sangat kental dan kuat dari duo pentolan V’gandr (bass/vocal) dan H’grimnir (gitar/vocal). Meski album ini secara keseluruhan memiliki kejemukkan yang kasar-sebagaimana mestinya, mereka nyatanya memberikan sentuhan orkes menyayat lewat pipes angelic (sejenis pipa organ) ke dalam harmonisasi album raunijaR ini dan disini juga saya percaya faktanya bahwa mereka sebenarnya belum memperkenalkan materi dan senjata yang lain yang mereka miliki. Ayo terus disimak?!

Mereka terlihat terus berusaha meng-clean-kan hal itu, dan Viking-choir pada keseluruhan album dapat kita rasakan dalam track-track-nya dan puncaknya dapat kita dengar pada track terakhir “Odr”. Dengan taste yang kurang lebih mirip seperti band black metal Ulver. Vokal berlapis yang terdengar tanpa henti begitu terasa menusuk hingga akhirnya masuk kepada bagian akhir yang diisi oleh violin / piano. Dan disini kita dapat melihat bahwa penekanan vokal pada album ini lebih menonjol dari album mereka sebelumnya.

Dari semua lagu yang ada pada album raunijaR,”Asgards Fall III” dan “Asgards Fall IV” lah yang paling menyita perhatian saya. Tiap kali saya menemukan “Asgards Fall I” dan “Asgards Fall II”, woow.. rasanya seperti saya masuk ke dalam suatu dimensi Viking dalam dunia yang mereka ciptakan, begitu dalam dan gelap. Opening track dibuka dengan sayatan akustik gitar yang menawan, part “III” dari Asgards Fall ini langsung menusuk dengan musik berat ala Bathory lengkap dengan Viking-choirs dan dentuman drum terdengar seperti telah dimulainya genderang perang. Part “IV” melanjutkan bagian sebelumnya yang lebih ditonjolkan dari sisi duet vokalnya yang bisa kita dengar pada part “III”, dan hal ini semakin menunjukkan kebesaran yang kuat akan musikalitas Helheim. Paruh pertama dari track itu dimulai dengan suara drum sebelum nantinya benar-benar berhenti pada titik tengah. Dari sini, kita selanjutnya dapat mendengarkan gemuruh riff gitar yang sedikit lemah dan sepertinya mereka terinspirasi dari beberapa sound Immortal, lalu kesimpulannya aransemen yang mereka buat diisi dengan solo gitar, Viking-choirs, jedah sekmen dengan lirik yang dibacakan seperti suatu doa dan atmosfir kelam yang dibangun dengan sedemikian rupa sehingga kesan gelap yang teramat dalam dapat dirasakan para pendengarnya. Meski terdengar komplit, namun secara musikalitas part “I” dan “II” lebih efektif didengar dalam menjulang ke inti poin.

Selanjutnya, kita harus mengapresiasikan kerja mereka karena sejauh yang saya lihat mereka telah benar-benar keluar dari zona nyaman dan meski mungkin ada dari kalian yang mendengar ada beberapa musik mereka yang belum benar-benar bekerja, tapi bagaimanapun kita tidak bisa membantah bahwa album mereka ini sangat nyaman untuk didengar. Potongan lagu “Asgards Fall” dan “Odr” yang dibuat panjang dan banyak elemen-elemen didalamnya namun tidak seutuhnya rancu.

Dengan hal-hal disamping tersebut, band yang tanpa menggunakan corpse paint ini terus berjalan begitu meyakinkan setelah melewati 2 dekade yang panjang, dan raunijaR adalah bukti lain yang mengisi perjalanan dari kebesaran band ini.

raunijaR (2015)

004886194_500.jpg

Track
1.     Helheim 9     04:30
2.     Raunijar     05:28
3.     Åsgards fall III 12:25
4.     Åsgards fall IV 08:40
5.     Odr     10:27

TOP 10 METAL ALBUMS 2014

joewilson

 

Sebelum menutup rentetan panjang perjalanan di tahun 2014 ini, tidak lengkap rasanya bila saya tidak memberikan top 10 rekomendasi album metal terbaik sejauh ini yang dirilis pada tahun 2014. Walau sebelumnya saya beberapa kali mencoba memberikan rekomendasi album terbaik versi saya di tiap tahunnya dalam sebuah forum, namun kali ini saya menyempatkannya mem-posting di blog saya yang superb sederhana ini (karena saya juga baru mencoba belajar menulis). Well, tanpa banyak basa basi, langsung saja yah temans. 🙂 #CheckThisFreakingOut 🙂

 

10. Shadows of the Dying Sun (Insomnium)

Di posisi ke-10 ini ada band yang berasal dari Finlandia yaitu Insomnium. Hirvonen dkk berhasil menyelesaikan tugasnya dengan baik melalui karya ke-6 full-length mereka yang di produksi oleh Century Media Records. Kalau diperhatikan secara detail, album ini terasa seperti gabungan konsep warna dua album mereka sebelumnya Across the Dark (2009) dan One for Sorrow (2011). Clean Vocal di beberapa session mungkin terkesan sedikit ‘menjual’ album ini sendiri dimana kita juga bisa membandingkan gaya vokal yang terasa dalam album Across the Dark. Album ini membuat anda berpikir sejauh mana Insomnium dapat mempertahankan identitas asli mereka setelah sekian lama berkiprah di scene Melodeath, namun demikian saya yakin bahwa konsep demi konsep yang diberikan sudah melalui rintangan yang begitu panjang yang sudah mereka lalui sehingga album ini pada akhirnya tercipta. Well, saya rekomendasikan album ini untuk para pecinta musik Melodic Death Metal.

 

9. Impact Velocity (Menace)

Percaya atau tidak, Menace ini adalah side project duo pentolan Napalm Death yaitu Mitch ‘Erebus’ Harris dan Shane Embury/ Cygnus & Synergus, saya mengklaim bahwa diehard metalhead harusnya pasti tahu kedua maestro tersebut. Lalu, kalian juga tentunya tahu Frédéric Leclercq, kan? itu loh bassis-nya Dragonforce, terus pada perkusi ada Mr. Derek Roddy (ex-Nile, ex-Malevolent Creation, Ex-BloatedScience) dan yang terakhir ada pria asal Italia yang berada di posisi Violin/ Cello untuk melengkapi line up side project ini. Hmmm, kalau dari komposisi line up nya udah pasti kebayang ‘kan arah musiknya pasti condong ke progressive. Album ini memang terlihat sangat ambisius, namun tetap catchy dengan riffing yang begitu soft serta unsur atmosfir space rock-nya menjadi daya tarik tersendiri. Saya paham Mitch Harris ingin mengeksplor musiknya dengan menciptakan part sound yang berbeda ‘milik’ Manace sendiri namun tetap saja ada sedikir nuansa Napalm Death didalamnya. Namun demikian komposisi musik milik Manace ini tetap menjadi perhatian saya di tahun ini. Coba saja dengerin track mereka “To the Marrow” dan “Positron”, saya yakin anda akan langsung ingin mencicipi keseluruhan track dalam album ini.

 

8. Vigorous and Liberating Death (Impaled Nazarene)

Ketika banyak band yang memasukkan unsur sound punk yang begitu eksotis dicampur dengan gelapnya musik black metal yang biasanya menjadi satu paket, saya jamin tidak akan ada satu orang pun yang akan melontarkan lagi statement tersebut pada album Vigorous and Liberating Death milik sang band veteran Black Metal asal Finlandia, Impaled Nazarane. Dengan musik yang begitu balance namun tetap memberikan nuansa chaos dibalut amarah yang begitu dalam bisa dirasakan di dalam album yang berjalan sekitar 30 menitan ini. Sebagai penikmat musik Black Metal, album yang dikeluarkan oleh Osmose Productions ini sangat tepat sekali bagi anda yang memang menginginkan musik Black Metal dengan daya seni tinggi.

 

7. Erdentempel (Equilibrium)

Equilibrium menghadapi tantangan yang sama sebagai band Pagan/ Folk Metal seperti band-band folk metal lainnya pada kenyataan bahwa para penggemarnya kebanyakkan berasal dari penikmat buku The Lord of the Rings, cerita fantasi medieval atau Wargame dan mengandung lirik hidup yang mendukung sehingga terdapat titik dimana musik folk menjadi lebih utuh. Nah, balik ke topik album Erdentempel, kalau boleh membandingkan dengan album sebelumnya, saya yakin para penggemarnya akan langsung menunjuk album Sagas (2008) sebagai album favoritnya, terlepas di situ juga masih ada Helge Stang yang menjadi lead vocalist mereka saat itu, namun bukan berarti Robse sebagai eksekutor tidak memberikan kontribusi terbaik (karena tiap orang memiliki karakter berbeda). Unsur keseluruhan dalam album ini begitu enerjik, happy dan fun. Tapi lebih dari itu, album ini memiliki melodi yang seperti seakan menarik-narik dan begitu sesak tetapi ringan untuk di dengar. Coba dengarin vokal dalam part chorus lagu “Karawane”, lalu tempo lagu yang folk banget lengkap dengan session instrumentalnya di tengah-tengah lagu itu berjalan membuat kita enjoy menikmatinya di suguhkan dalam track “Uns’rer Floaten Klang” atau sebuah anthem yang terdengar sangat serius lewat pesan yang disampaikan dalam lagu “The Unknown Episode” yang ada di penghujung album ini. Satu-satunya komplain yang mungkin sedikit mengganjal pikiran saya adalah ke-tidak konsistensi-an album ini, dimana lima track pertama saya rasa masih sejalan dengan arah album ini namun ketika masuk ke dalam track ke-6 sampai ke-11 saya harus benar-benar melakukan repeat berulang. Meski demikian, saya tetap dapat menikmati lagu ini seraya menyeduh secangkir teh. Pada akhirnya apabila anda bersikeukeuh dengan harapan anda pada album ini sesuai selera yang anda harapkan, anda pasti akan mengalami rasa kecewa, apalagi membanding-bandingkannya dengan album sebelumnya. Tetapi album ini serasa memberikan melodi seraya pesta masyarakat folk dengan nuansa gembira yang dapat membuat anda menari-nari, jadi bergembiralah mendengarkannya.

 

6. Enigma Opera Black (Stéphan Forté)

Mungkin tidak banyak yang mengetahui gitaris multitalent yang satu ini, namun bukan berarti shredder asal negeri menara Eiffel ini tidak bisa mendapat perhatian lebih dari saya secara pribadi. Album solo yang dirilis oleh salah satu pentolan band Progressive Metal Adagio ini memiliki daya tariknya tersendiri dalam komposisi musiknya dengan style neo-classical metal dan progressive-nya. Beda orang, maka style-nya pun pasti berbeda, style Stephen Forte ini berbeda dengan Jeff Loomis ataupun Michael Angelo Batio tetapi masih dalam radar nuansa neo-classical metal. Dalam album ini, anda akan disuguhkan ‘Moonlight Sonata 3rd Movement’ karya Wolfgang Amadeus Mozart lewat track yang diberi judul ‘Short Virtuosity Etude’ juga album ini melibatkan gitaris-gitaris gokil lainnya yang memberikan kontribusi ke dalam beberapa track seperti Paul Wardingham, Marty Friedman dan Andy James yang memberikan nilai lebih serta experience tersendiri bagi para penikmat instrumen gitar electric ini. Atmosfer yang diberikan sangat menantang dan penuh dengan efek-efek unik yang menghiasi jalannya album ini yang berdurasi sekitar satu jam. Buat para gitaris, mungkin dengan mendengar rilisan album ini, anda bisa menambah amunisi baru ke dalam style permainan gitar anda dan juga bisa mendapat inspirasi di samping mendengarkan gitaris-gitaris favorit anda.

 

5. Eyehategod (Eyehategod)

Finally… setelah melawan segala rintangan selama kurang lebih 10 tahunan atau tepatnya sejak awal tahun 2000-an, akhirnya Eyehategod mengeluarkan album Self-Titled yang melengkapi koleksi full-length album mereka yang ke-5 sejak berdirinya band ini, dan juga pastinya album ini sudah di tunggu-tunggu para penggemar musik Sludge Metal ini sejak terakhir mereka mengeluarkan album pada tahun 2000. Style Sludgy, Southern Sludge, Noisy dan akar dari blues yang begitu kental dalam diri Eyehategod masih tetap dipertahankan dan tanpa basa basi langsung menyerang anda lewat opening track “Agitation! Propaganda!”, dengan tempo yang begitu stabil lalu masuk ke tempo blast hardcore punk dan simple riff sebelum selanjutnya akan masuk ke track kedua ‘Trying to Crack the Hard Dollar’ dengan menyuguhkan musik yang kental dengan riff Southern Sludge-nya yang akan mengingatkan kita kepada album masterpiece mereka yang rilis tahun 1996 Dopesic. Saya yakin bahwa rilisan album ini tidak akan mengecewekan para penggemar beratnya maupun penggemar musik Sludge Metal. Kebanyakkan band yang eksis masa kini pasti jarang sekali yang mampu mempertahankan diri dan mampu melewati masa-masa sulit seperti yang telah Eyehategod lakukan, bahkan saya rasa setengahnya ‘pun tidak. Untuk itu, jangan ragu lagi untuk langsung mencicipi album ini bagi anda yang baru mengetahui rilisan yang keluar pada bulan Mei kemarin.

 

 4. Firestorm (Ambush)

Ketika banyak band metal berlomba-lomba untuk memberikan nuansa modern ke dalam musik metal-nya, Ambush band asal Swedia ini datang dengan mempertahankan sound musik metal era 80-an yang begitu classic dan nature dengan produksi album yang seperti layaknya di produksi pada tahun 198o-an meski mereka adalah band debutan. Nuansa Judas Priest (sekilas font atau logo band Ambush mirip sekali dengan Judas Priest) memang akan selalu membayangi mereka ketika kita mendengarkan beberapa track dari mereka, juga musik Accept. Berdiri pada tahun 2013, Ambush mungkin bisa kita tambahkan ke dalam list band yang wajib di dengar di sepanjang tahun 2014 dan di tengah-tengah banyaknya band metal modern bertebaran, Ambush membawa saya ke dalam ingatan ke masa awal dimana dulu saya baru mengenal musik Heavy Metal yang ketika itu musik di ciptakan berlandaskan suatu identitas bagaimana sebenarnya musik Heavy Metal, bukan saja hanya cabang dari musik Hard Rock. Bagaimana “Hellbound”, “Don’t Shoot (Let’ Em Burn)” sangat otentik sekali dengan riff classic metal, riff gitar-nya juga sangat bagus, bukan terdengar technically ataupun njelimet namun lebih melengkapi keutuhan seluruh track di album ini yang berjalan selama 30 menitan. Musik mereka yang begitu catchy membuat mereka menjadi terdepan dalam karyanya selain band-band lain yang melakukan hal sama. Trust me… they music works well, bro!!!

 

3. White Devil Armory (Overkill)

Woww.. itulah kata dan ungkapan yang mungkin paling tepat terlontar dari mulut dan pikiran setelah mendengar album ini secara keseluruhan. Bagaimana D.D tetap memanjakkan para fans sejatinya dengan musik Thrash sebagaimana mestinya yang kita butuhkan saat ini untuk tetap mengudara seantero scene Thrash Metal. Speed, old-skull, classy dan tempo ‘ngebut’ nya yang tetap menjadi khas band-band Thrash Metal begitu membahana di sepanjang album ini. “Armorist”, “Down to the Bone”, “Pig” dan hampir keseluruhan track memiliki tempo yang familiar dengan album-album sebelumnya, tetapi kini di kemas lebih rapih dengan sound yang begitu badass (engga tahu kenapa ketika mendengar opening track ‘Armorist’ saya malah keinget style albumnya Tempo of the Damned nya Exodus). Lalu, apakah album ini menurut anda pantas untuk dinikmati? Yah, saya dengan lantang mengatakannya demikian, bukan untuk mendefinisikan musik Thrash yang sebenarnya dan bukan karena Overkill adalah band legendaris Thrash Metal yang masih berada di jalur yang benar, namun lebih membuktikan bahwa keeksistensisan Overkill yang telah malang melintang lebih dari 30 tahun masih tetaplah Overkill yang dahulu. Yah, semoga dalam waktu dekat mereka memiliki jadwal kerja di kota kecil saya agar saya dapat menikmati penampilan heroik D.D Verni dkk dari jarak yang lebih dekat.

 

2. Blind Rage (Accept)

Accept yang kita ketahui adalah salah satu band legendaris Metal tersukses sepanjang masa sejak tahun 80-an dan band yang paling diminati oleh banyak pecinta musik metal di luar sana, kembali membuktikan tajinya bahwa kepiawaian mereka membuat karya-karya brilliant belum habis dengan mengeluarkan album studio mereka ke-14 (Album ke-3 Mark Turnillo sejak ia bergabung bersama Accept). Ketika banyak band metal sekarang bereksploria dengan musik yang lebih modern, Accept tetap melakukan tugasnya untuk mempertahankan sound mereka dan tetap berada pada jalur yang semestinya. Energi yang terpancar dalam diri Accept masih dibangun dalam model stlye mereka “Class is permanet”. Yah, meskipun mereka sudah melewati beberapa dekade dan sudah melewati banyak asam garam di scene musik metal, namun album ini tetap solid se-solid album era Balls to the Wall (1983). Dalam instrumennya, kedua gitaris Wolf Hoffman dan Herman Frank memberikan komposisi dan kolaburasi yang sempurna yang bermula dengan part intro akustik di track “Wanna Be Free” dan “From the Ashes We Rise”, lalu melanjutkannya ke track yang begitu catchy lainnya “The Curse” dan “Fall of the Empire” dan ke track yang begitu epic di lengkapi  solo gitar pada track “200 Years” dan “Dying Breed”. Dimana juga peran Peter Baltes (Bass) dan Stefan Schwarzmann (Drum) memberikan komposisi terbaiknya dalam mengiring setiap track pada album Blind Rage ini.

 

1. Elements of the Infinite (Allegaeon)

Tidak ada kata yang dapat menjelaskan bagaimana album milik band yang berasal dari Fort Collins, CO Amerika Serikat ini begitu maknyus di sepanjang tahun 2014 ini dimana kita semua di buat terpukau oleh musik yang mereka buat memiliki catchy riff lengkap dengan teknikal serta blast beat drum sepaket menjadi musik Melodic Death Metal yang elegan. Album ini di isi oleh 10 track dimana semuanya memiliki keunikan dengan gaya mereka sendiri dan agar tidak terlupakan, maka saya sarankan untuk mendengarkan secara berulang track per track, personil Allegaeon juga di isi oleh musisi bertalenta tinggi. Maka, album ini adalah album terbaik di sepanjang 2014. Di buka dengan track “Threshold of Perception” dengan intro klasikal akustik nan elegan sebelum anda di bawa menuju ke musik dengan tune berat yang sebenarnya dengan teknik yang begitu catchy di balut dengan atmosfir gelap, dan seperti dalam menit pertama itulah album ini juga akan berakhir dengan gaya yang sama. Masuk ke track kedua “Tyrants of the Terrestrial Exodus” juga memberikan musik yang se-level dengan track pertama sebelumnya.  Track andalan yang membuat says terpukau yaitu “Dyson Sphere,” “1.618,” dan “Biomech II,”. Secara keseluruhan Allegaeon telah bekerja dengan sangat baik, memfokuskan musik mereka lebih teknikal dengan upaya-upaya yang selama ini telah mereka coba pada album dan konsep mereka terdahulu sehingga menjadikan album ini sangat sangat super awesomeness. Oh iyah, ada satu video clip kocak yang mereka buat, yaitu dari track mereka yang berjudul “1.618”, dari video klip itu saya yakin kalian pasti mengerti apa maksud di balik video tersebut.

 

 

Nah, album-album itu saja yang menurut saya sangat berpengaruh di sepanjang tahun 2014 versi saya, tunjukkan album terbaik versi anda?!

 

Well, terima kasih atas kunjungannya! Ciiiaooooo…. 🙂

Musik ‘Post-‘

Hello guys… 🙂

Setelah menyimak judul tulisan di atas, kira-kira apa sih yang muncul dalam benak anda? pasti anda secara otomatis langsung mengingat genre seperti ‘post-rock’, ‘post-hardcore’, ‘post-metal’ dan lain sebagainya (just guessing). Lalu, apakah maksud dari kata ‘post’ tersebut yang melengkapi sebuah term (dalam hal ini sebut saja ‘term’ atau apalah terserah anda mau menyebutnya apa) tersebut? atau, bisakah term tersebut di samakan/ disetarakan dengan genre yang mengikutinya? Seperti contoh misalnya ‘post-punk’ sama dengan musik Punk Rock atau ‘post-hardcore’ pasti sama dengan musik Hardcore/ Hardcore punk..?! Apakah mereka hakekatnya dapat dikategorikan sebuah subgenre dari genre yang mengikutinya pada term-term tersebut? Silahkan jawab sendiri setelah membaca secara lengkap tulisan singkat yang saya buat ini. 🙂

Sebenarnya… dari hati saya yang puallingg terdalem (cieelahh.. lebaynyeee !#@$%&), saya paling ga suka ng-judge suatu genre.. apapun itu genre-nya, karena saya yakin tujuan semua band berkarir yaitu untuk memberikan suatu hiburan kepada tiap penikmatnya lewat karya-karya mereka yang brilliant (terkecuali band/ musisi aji mumpung yang hilang dan timbul memanfaatkan situasi mainstream).

So… this time, I wanna figure out what is suppose to be. Then i hope this article make things clear… ciaoo 🙂

Ternyata, “Post-” itu adalah sebuah movement atau bisa juga kita bilang dengan new wave dalam genre musik, yaitu musik yang mengambil/ mengadopsi unsur satu genre sebagai acuan namun lebih banyak memberi variasi ke dalam jenis musiknya melalui pengaruh-pengaruh musik yang berkembang di dunia modern dengan menciptakan sound yang tidak serupa dengan genre yang diikutinya, bisa dalam instrumen, efek, sound ataupun bisa juga melalui pesan yang dituangkan ke dalam lirik (dalam hal ini sih sedikit mirip artinya dengan musik progressive atau eksperimental yaitu banyak memberi ruang dalam membangun kreativitas yang di tuang lewat nada dalam karyanya yang di eksplor oleh tiap personel dalam suatu band, “yah ga mungkin juga donk kita menyebutnya progressive punk bila ia sebenarnya adalah post-punk dimana di dalam musiknya mengadopsi musik Punk Rock dengan menambah elemen-elemen musik yang berbeda ke dalam alur musiknya!” not make a sense at all).

Misalnya kita ambil contoh musik post-rock, mereka memang mengambil elemen-elemen musik Rock seperti style sound, mix atau penggunaan gitar electric. Namun mereka bermain dengan alunan nada atau riff yang bukan seperti genre Rock itu sendiri tetapi dengan melodi yang lain, ada yang menggunakan vokal dan kebanyakkan hanya berupa instrumental (katanya sih yang suka dengar jenis musik ‘post-‘ ini adalah tipe-tipe orang yang ingin sesuatu yang berbeda dan bisa ada juga yang menjadikan musik ini sebagai musik terapi… hehehe #NoOffense). Jadi musik yang dimainkan tidak terdengar seperti musik Rock. Sebut saja band post-rock yang banyak dikenal yaitu Explosions in the Sky (Amerika) dan Godspeed You! Black Emperor (Kanada). Perhatikan dan dengar musik yang mereka mainkan, sangat berbeda sekali dengan musik-musik Rock pada umumnya yang kita ketahui namun tetap memiliki warna yang indah tersendiri tiap kali mendengarkan musiknya.

Ada lagi contoh lain yaitu post-hardcore. Sama seperti post-rock (mengambil elemen sebuah genre yang mengikutinya setelah ‘post-‘), post-hardcore juga adalah sebuah term yang berkembang mengambil elemen musik dari Hardcore Punk namun memiliki gaya musik yang berbeda seperti musik Hardcore Punk itu sendiri. Contoh band yang menjadi pendahulu term ini seperti Saccharine Trust, Fugazi, Drive Like Jehu atau At The Drive-In, namun tetap menggunakan etnik DIY. Mereka mengambil banyak elemen-elemen musik dari para punggawa band Hardcore Punk seperti Minor Threat atau Bad Brains. Bahkan, Sunny Day Real Estate dan Rites of Spring yang notabene adalah band post-hardcore sukses di awal tahun 90an malah menjadi pentolan untuk genre yang lahir dari dalam post-harcore itu sendiri, yaitu Emo. Lalu, Emo itu sendiri akhirnya berkembang dengan caranya sendiri namun tetap memiliki konsep Hardcore Punk dalam pondasi musiknya.

Nah, sekarang bagaimana? apakah sudah terbayang dengan musik ‘post-‘ ini? memang agak lumayan ribet dan rumit menjelaskannya ke dalam kata-kata, saya pikir lebih gampang jika anda langsung mendengarkan satu per satu musiknya biar gampang ngebedainnya.
Kalau mungkin ada yang mau di sanggah atau ditanyakan, langsung aja komen disini yah… kita sharing bareng-bareng 😉

So, thank you for your attention! 🙂

TULUS – KHOLD – TULUS

1378_photo

Well, do you know what i’m saying about? yeah.. it’s all about Blodstrup and Sarke’s works!!!

Surprising me when the band like Mayhem, Gorgoroth, Immortal has build the strongest music for black metal supposed to be in early 90s that we have known ‘Second Wave of Black Metal’ or ‘Early Norwegian Black Metal’. Their music proceeded the early black metal like the band Venom, Mercyful Fate, Celtic Frost which have appeared before their existence. *Inter-fucking-mezzo*

Oke, lanjut ke topik yang sebenarnya.. hahaha. Sepengetahuan kita soal genre musik Black Metal yang berkembang pada awal 90an di Norway yang juga menjadi cikal bakal musik Black Metal di masa depan dimana hal ini menjadi lazim untuk di ketahui para metalhead dan juga sudah menjadi rahasia umum di kalangan pecinta musik keras. Beberapa nama-nama band pioneer yang saya cantumin di atas dan track lagu seperti ‘Transilvanian Hunger’, ‘Mother North’, ‘Ea Lord of the Depths’ juga pasti sudah tidak asing lagi di telinga bagi penikmat musik underground ini. Tapi ada satu band yang mau saya kupas sedikit kiprahnya pada kesempatan kali ini, yah… mereka adalah TULUS.

Terbentuk pada era ‘Early Norwegian Black Metal’ tepatnya pada tahun 1991, band ini berhasil menelurkan 3 album di sepanjang tahun 90an yaitu Pure Black Energy (1996), Mysterion (1998) dan Evill 1999 (1999) . Walaupun nama mereka engga se’wah’ Immortal ataupun Satyricon, namun musik mereka ga kalah bagusnya dengan band-band sebesar Darkthrone, Gorgoroth ataupun Thorns. Adalah Sverre ‘Gard/ Blodstrup’ Stokland (Vox) dan Thomas ‘Sarke’ Berglie (Drum) yang menjadi otak di balik musik black metal TULUS ini. Berdua mereka bereksploria membuat musik bagi para pecandu musik keras di daratan Oslo yang akhirnya merembet ke dunia luar di luar Norway. Style musik mereka yang berpusat pada gaya Norwegian Black Metal, terkhusus dengan teknik vokal dan guitar riffing dengan track song yang biasanya bermain di tempo setengah “Mid-Paced”/ tempo standar dan teratur ketimbang Speedier Blast-beat sound (Gabungan drum style ala Death Metal, kalau ngomongin Death Metal di page Black Metal itu rasanya jadi gimana gitu.. keinget Fenriz pernah nyeletup “fed up with the whole death metal scene”) dan tempo cepat ala Speed Metal dan Hardcore Punk/ crustpunk yang sering di gunakan pada masa-masa awal kemunculan musik Black Metal di era ‘First Wave of Black Metal’. Album awal mereka ‘Pure Black Energy’ sebenarnya mengacu pada standard musik Black Metal era kedua, namun ntah kenapa ada sesuatu yang mengingatkan saya pada album Gorgoroth Pentagram ketika mendengar beberapa list di album tersebut dan mungkin juga Tulus terinspirasi oleh gaya musik Infernus pada saat itu (mungkin juga sampai sekarang), namun demikian album tersebut adalah salah satu album rekaman Black Metal terpenting dari seluruh album-album Black Metal yang pernah dibuat. Dengan sound yang lebih fresh mengingat saat itu scene Norwegian Black Metal sudah menjadi blue print bagi para pelaku musik kvlt-nya daratan Norway saat itu. Masuk pada track pertama pada album Pure Black Energy ada track ‘Grav’, lagu ini memiliki sound kuat dengan dentuman drum mengikuti vokal Gard yang tak memiliki waktu jedah, lagu tersebut membuka Album Pure Black Energy ini dengan durasi kurang lebih 1 menitan. Lalu ada track “Wolf” pada urutan ke-8, intro awal yang bertolak belakang dengan susuan lagu sebenarnya ini membuat komposisi terlihat sangat fresh, belum lagi gitar riffing yang punya sound sedikit ng-thrash di dalamnya membuat track ini semakin ciamik.  “But something stuck out when I first heard it back in who knows when. I guess it invoked the basic feeling that black metal should”The unknown. Oke, karena ini bukan review mengenai album mereka, jadi saya tidak akan bercerita banyak tentang album awal mereka tersebut. Dan ada yang unik, dari semua lirik dalam musik TULUS (dan Khold setelahnya) di tulis oleh istri sang vokalis Blodstrump, yaitu Hildr yang banyak bercerita tentang Myth dan Dark Folklore. Sejak awal berdirinya mereka hingga hiatus pada akhir 90an, mereka telah menciptakan track-track  bagus seperti ‘Grav’ (yang telah saya paparkan sedikit di atas), ‘Samlerens Kammer’, ‘Skuggeskip’, ‘Mysterion’, ‘Salme’ hingga ‘Tarantulus’ hingga pada tahun 2000 mereka memutuskan untuk rehat.

Setelah itu, kedua bocah enerjik Blodstrump dan Sarke melanjutkan pengalaman bermusik mereka pada project mereka yang lain, Khold (begitu mereka menyebutnya). Bukan sembarang project, Khold malah lebih dikenal banyak orang ketimbang TULUS yang kita tahu adalah band pertama mereka. Keputusan mereka membentuk band Khold ini karena duo Blodstrump dan Sarke ingin membuat sebuah project ‘Beneran’ dengan line up komplit dengan merekrut Rinn (Guitar) dan Elkind (Bass).

Di lihat dari segi musik yang mereka buat seperti dari alunan guitar riff, vokal dan atmosfir keseluruhan musik Khold ini sangat kentara sekali dengan musik tradisional black metal ala Darkthrone, tetapi dengan perbedaan yang mencolok pada gaya musik mereka yang sering berubah-ubah dengan teknik blastbeat speed. Sedangkan band-band lain yang masuk kategori yang sama pada musik yang mereka mainkan, teman-teman bisa membandingkan sound mereka seperti Satyricon atau Thorns. Album yang berhasil mereka garap pun seperti ‘Masterpiss of Pain’, ‘Phantom’, ‘Morke Gravers Kammer’, ‘Krek’, ‘Hundre År Gammal‘, hingga yang terakhir di rilis tahun ini ‘Til Endes‘, memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Namun demikian, sejak Sarke membentuk Khold sepertinya ia menemukan sedikit ramuan ke dalam musiknya hingga itu berdampak pada TULUS sejak mereka kembali menjalankan project tersebut. Sejak terbentuknya Khold ini dan reuninya TULUS, sound TULUS seolah sedikit mengadaptasi musik Khold. Bisa di lihat dari rilisan album TULUS tahun 2012 kemaren Olm Og Bitter yang mempunyai sound serupa dan atmosfir yang sedikit mengingatkan kita pada sound yang di buat Sarke pada project Khold. Lagu-lagu yang memang ciri khas TULUS memiliki durasi hanya berkisar 2-3 menit disajikan keseluruhan hanya kurang lebih 30 menit. Yang berbeda disini antara TULUS dan Khold yaitu bisa di dengar dari tempo lagu TULUS yang lebih cepat, istilahnya sih track-track disini adalah track Khold dalam versi tempo yang lebih cepat. Karena kita tahu Khold bermain dengan tempo tidak cepat dan menggunakan downtuned string dan raw sound. Yah, album tersebut juga lebih fresh di banding album-album sebelumnya, ada track yang menyisipkan sedikit teknik arpeggios di dalamnya seperti yang ada pada track ‘Frossen Skog’ dan ada juga track dengan efek ber-atmosfer gelap seperti pada musik Depressive Black Metal pada track ‘Nidhevn’.  Yeah, you know that Khold’s sound is raw and stripped down… That’s what I mean. Sarke & Blodstrump are both TULUS and Khold.

Oke, buat yang lagi nyari-nyari referensi musik tradisional Black Metal yang lebih fresh, kalian bisa dengar TULUS selain dengarin band-band seperti Emperor atau Darkthrone.

Yah, segitu dulu aja ngalor ngidul dari saya… sorry kalau nulisnya ngacak, abis saya bukan penulis profesional sih.. CMIIW,

Kalau ada yang mau nanya, monggo dipersilahkeun… 🙂

Recommended Album:

TULUS > Pure Black Energy, Evil 1999, Biography Obscene

Khold > Masterpiss Of PainKrekHundre År Gammal