Music in Life

Mystical Future (2016) by Wildernessking

3540340820_photo

Wildernessking adalah band atmospheric black metal yang berasal dari daratan Cape Town, Afrika Selatan. Yah… band yang jauh dari pandangan kita pada hari ini, ternyata memiliki cukup amunisi mematikan untuk men-sejajarkan diri dengan band-band black metal top lainnya. Berdiri dengan nama Heathens, mereka mengusung tema musik black n ‘roll. Materi awal pada album pertama mereka secara eksplisit mengingatkan kita pada musik Enslaved namun dengan nuansa sedikit progresif ke Norwegia-an.

Pembuatan materinya dibuat dengan ringkas dan riffy, kalimat “atmospheric” yang tak terlintas dibenak saya-setidaknya sampai mereka merilis lagu “Morning” di tahun 2011. Pada tahun 2012, era baru dimulai ketika mereka mengubah nama band menjadi Wildernessking, merilis album perdana yang berjudul The Writing of Gods in the Sand yang menebar sound mereka ke arah yang lebih luas (baca: global). Rilisan ini membantu menyeimbangkan musik mereka antara komposisi raw, tone black metal dan konsep-konsep lain yang lebih mendalam guna menambah atmosfir gaya musik mereka.

Oke cukup intermezzo-nya 🙂

Dan, di awal tahun 2016 ini mereka pun telah mengeluarkan album kedua berjudul Mystical Future sebagaimana yang menjadi topik utama kita dalam blog saya ini-suatu proses petualangan baru yang akan mewarnai karir mereka ke depan dalam mengambil langkah yang lebih jauh, penekanan ke arah black metal yang lebih mendalam namun cathcy, materi yang bisa dibilang dewasa dengan sound yang di sedikit banyak mengarah ke tempo yang lebih lambat. Album ini menunjukkan ‘sedikit’ style Heathens dalam musiknya, sementara unsur dalam The Writing of Gods in the Sand masih cukup agresif bergelagat didalamnya, Mystical Future ditulis bagaikan kobaran api yang bergerak lambat.

Sound yang luas diserang oleh suara drum dan gitar dengan tempo lambat sebagai latar-dimana amunisi drum dari Jason Jardim yang paling jelas dalam demonstrasi ini. Ini berarti ketika musik mereka mencapai puncaknya, sound yang mereka miliki tidak akan pernah lepas dari unsur raw dan agresif black metal yang menggeliat. Dan bahkan ketika memperhatikan gaya vokal Keenan ke belakang, ia seperti meneriakkan liriknya tanpa microphone. Sound yang luas ini seolah-olah seperti menahan speed pada tempo musik mereka. Wildernessking membuat materi yang mencapai sisi ke-epic-an serta menyayat hati-yang serta merta mengingatkan materi terakhir band Anathema. Track penutup “If You Leave” yang menghadirkan suara halus oleh seorang wanita yang memberikan kesan epic yang mencapai puncaknya dalam menutup rentetan track terakhir. “With Arms Like Wands” menghadirkan varian blast dimana diisi oleh penggabungan beberapa kepingan-kepingan berbeda menjadi sesuatu yang terlihat lebih heavier dan intens-seperti pukulan butiran hujan yang turun kebawah, bayangkan itu. Track “If You Leave” yang menghadirkan copy-an nuansa menit pertama dari materi album Moonsorrow Varjoina kuljemme kuolleiden maassa yang membuat track penutup ini terdengar lebih suram dan melankolis. Lalu ada track “I Will Go To Your Tomb” yang terdapat sedikit unsur musik Heathens ataupun Enslaved sebelum masuk ke tempo yang sedikit lebih dinaikkan. Mystical Future menghadirkan sisi atmosfir Wildernessking yang begitu dalam dengan sentuhan yang begitu fantastis nan elegan; ada saat seperti rehat dalam meditasi, saat pecah dan sedikit getaran kencang yang berputar dihadapan anda-terutama pada betotan bass Keenan dan dentuman drum Jason berjalan bersama-sama. “To Transcend” menutup side A dengan potongan nuansa instrumental, melankolis dan indah, yang terdengar lebih ke Alcest daripada Enslaved.

549754

Side A
1. White Horses
2. I Will Go to Your Tomb
3. To Transcend

Side B
4. With Arms like Wands
5. If You Leave

Mystical Future adalah sebuah katalog menakjubkan yang pernah ada di muka bumi. Materi pada album ini sedikit sulit untuk di kompare dengan karya mereka sebelumnya The Writing of Gods in the Sand-meski ada beberapa alurnya ada dalam album ini. Ironisnya, band ini mengambil hal-hal yang saya pikir menjadi kelemahan dalam album awal mereka, tapi nyatanya mereka malah membuatnya dua kali lipat lebih dari yang kita pikirkan-mereka membuat materi yang memiliki sentuhan musik Moonsorrow dan October Falls (band yang memiliki kemampuan menavigasi pusaran lagu-lagu dengan durasi panjang mencekam).

Mystical Future mendarat di suatu tempat yang halus dan kasar yang berpotensi menghancurkan, yang tampaknya menjadi sesuatu persis yang Wildernessking ingkinkan. Lalu, apakah kemudian album ini menjadi salah satu rilisan yang paling terbaik di sepanjang tahun ini? Kita lihat saja nanti! Graciassss 🙂

Top 7 Metal Albums 2015

banner2015.jpg

 

Hello folks!

Watca’ doin’ there?  Hope you enjoy this time…

anyway.. langsung saja yah, saya mau share beberapa album metal yang menurut saya paling oke di sepanjang tahun 2015 ini. Mungkin teman-teman sudah ada yang dengar atau menyimak salah satu atau bahkan semua dari album-album tersebut? Silahkan beri komentarnya juga disini sekalian *ngomong sama malaikat di langit* 😛

 

*Check this out my man!!!*

 

7. Ygg huur (Krallice)
Kualitas Colin Marston tidak perlu diragukan lagi bersama Gorguts, pun begitu menurut saya bagaimana ia memainkan perannya di Krallice. Album ini adalah salah satu rilisan yang menyita perhatian saya tahun ini. Beberapa bagian yang mungkin hilang sebelumnya kemudian dilengkapi pada album ini: atmosfir, karakter dan penekanan musik black metal itu sendiri menjadikan album rilisan terbaru mereka menjadi lebih komplit nan elegan.

525089.jpg

1. Idols
2. Wastes of Ocean
3. Over Spirit
4. Tyranny of Thought
5. Bitter Meditation
6. Engram

6. Autumn Eternal (Panopticon)

Setelah mendengar album ini secara keseluruhan, satu hal yang jelas – Lunn jarang terdengar sebergairah ini tentang musiknya berdasarkan interview yang saya lupa waktu itu melihatnya dimana. Inspirasi dari musik klasik hingga ke shoegaze menjadi senjata racikan ke dalam album ini. Satu hal yang mengingatkan kita bahwa energi dan passion pada musik ini tidak selalu datang dari hal-hal buruk.

0006143208_10.jpg

1. Tamarack’s Gold Returns
2. Into the North Woods
3. Autumn Eternal
4. Oaks Ablaze
5. Sleep to the Sound of the Waves Crashing
6. Pale Ghosts
7. A Superior Lament
8. The Winds Farewell

 

5. Luminiferous (High On Fire)

Band yang satu ini telah bekerja keras dengan baik dalam mempertahankan konsistensi bermusiknya, hal itu tak terbantahkan dan kita bisa melihat dari album dan sepakterjang mereka sampai saat ini. Setelah sukses dengan album sebelumnya De Vermis Mysteriis, kini Mike Pike Cs kembali memberikan angin segar lewat album yang tak kalah menariknya Luminiferous. Track seperti “The Cave”, “The Sunless Years” dan “Carcosa” bisa dibilang beberapa track jagoan yang mungkin bisa kamu dengar dalam album ini.

505054.jpg

1. The Black Plot
2. Carcosa
3. The Sunless Years
4. Slave the Hive
5. The Falconist
6. Dark Side of the Compass
7. The Cave
8. Luminiferous
9. The Lethal Chamber

 

4. A Umbra Omega (Dødheimsgard)

Mungkin tidak sedikit dari kita yang tahu bahwa Dødheimsgard adalah satu dari beberapa band yang tersisa dari era black metal gelombang kedua. Fenriz (DARKTHRONE), Apolloyn (AURA NOIR) dan Galder (DIMMU BORGIR) dan (OLD MAN’S CHILD) adalah nama-nama diantara mereka yang berpengaruh didalamnya. Namun pada tahun 1999, mereka memutuskan untuk lebih bereksperimental meski tetap dalam konteks black metal yang sangat kuat. Dan apa yang telah mereka lakukan untuk album ini adalah sebuah kualitas yang sangat apik yang dikemas dalam nuansa yang lebih fresh. Dødheimsgard adalah salah satu band black metal yang paling menarik untuk dinikmati saat ini dan mereka sangat baik dalam membuat tone yang punya idealis karakter, melodrama dan emosi yang tertuang didalamnya serta sebagai pentolan, mereka sangat pantas menjadi influence buat band lainnya.

91v7R9-zEqL._SL1500_.jpg
1. The Love Divine
2. Aphelion Void
3. God Protocol Axiom
4. The Unlocking
5. Architect Of Darkness
6. Blue Moon Duel

 

3. The Anthropocene Extinction (Cattle Decapitation)

Layaknya anggur yang baik, sound mereka tampaknya semakin matang dengan berjalannya waktu. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah apa yang album ini berikan cukup menarik. Gaya musik dan beberapa unsur yang unnatural bisa kita temukan pada album ini. Contoh yang mungkin kita bisa rasakan dibeberapa lagu terdapat unsur seperti black metal (terutama lagu “Apex Blashphemy”), groove metal bahkan sampai unsur melodic death juga dapat kita rasakan disana. Meski sebelumnya tidak sedikit orang yang pesimis dengan album ini karena hal-hal yang tadi, juga karena album mereka yang sebelumnya memang sangat banyak diapresiasikan lantas orang menjudge album ini akan tidak se’wah’ Monolith of Inhumanity. Tapi nyatanya? silahkan nilai sendiri.

512105.jpg
1. Manufactured Extinct
2. The Prophets of Loss
3. Plagueborne
4. Clandestine Ways (Krokodil Rot)
5. Circo Inhumanitas
6. The Burden of Seven Billion
7. Mammals in Babylon
8. Mutual Assured Destruction
9. Not Suitable for Life
10. Apex Blasphemy
11. Ave Exitium
12. Pacific Grim

 

2. Monotony Fields (Shape Of Despair)

Finally akhirny mereka merilis full-album setelah terakhir thn 2004. Album ini bagi ane jelas lebih baik dibanding 3 album terakhir sebelumnya. Monotony Fields bisa dibilang sebuah album masterpiece untuk band funeral doom dengan atmosfir, melankolis, aura doom dan keindahan sound yang di mix jadi satu. Jka kamu duduk di ruang gelap dengan menyalakan beberapa lilin lalu menetap disana beberapa jam dan ternyata kamu menikmati keadaan itu dalam aura atmosfir terawang-awang diantara sound doom yang menyenangkan dimalam hari. Selamat, berarti kamu adalah salah satu penggemar sound funeral doom ala Shape of Despair.

506491.jpg

1. Reaching the Innermost
2. Monotony Fields
3. Descending Inner Night
4. The Distant Dream of Life
5. Withdrawn
6. In Longing
7. The Blank Journey
8. Written in My Scars

 

1. Sleep at the Edge of The Earth (Wilderun)

Seriously… album yang satu ini sangat direkomendasikan banget buat kamu para pecinta musik folk metal. Sejak menit pertama dan terakhir kita disuguhkan atmosfir bak sebuah perjalanan didalam dunia fantasi, intro di awal pada album ini memberikan sebuah tanda bahwa perjalanan panjang telah terpapar luas didepan lewat track pembuka Dust and Croocked Thoughts dan akan diakhiri dengan sebuah tanda penutup yang begitu manis lewat track Sleep at the Edge of the Earth. Passion yang dihadirkan untuk genre bertajuk folk sangat terlihat jelas di dalam penulisan lirik, alur dan proses rekaman pada album ini, sehingga semuanya benar-benar bekerja sebagaimana mestinya dimana pada saat ini kebanyakkan band-band folk metal jarang yang menampilkan konsep novel yang begitu mendalam, sementara Wilderun menampilkan keyakinan tentang hal itu dan lewat sound yang dibungkus dengan unsur symphonic yang menambah kesan folk yang begitu mendalam, yah band asal Boston ini benar-benar serius mendalami genre musik yang mereka ambil. Tiap-tiap elemen folk itu terasa lebih epic dimana instrumen seperti: mandolin, melodica, dulcimer dan banjo melengkapi suara-suara khas folk Wilderun, dan saya tak ragu lagi menempatkan album mereka di posisi teratas ditahun ini. Well done, guys! YOU SHOCKED ME A LOT…!

492322.jpg

1. Dust and Crooked Thoughts (instrumental)
2. And So Opens the Earth (Ash Memory Part I)
3. Hope and Shadow (Ash Memory Part II)
4. Bite the Wound (Ash Memory Part III)
5. The Faintest Echo (Ash Memory Part IV)
6. The Garden of Fire
7. Linger
8. The Means to Preserve
9. Sleep at the Edge of the Earth (instrumental)

 

Oke guys, bagaimana? kira-kira menurut kalian apakah ada album lain yang pantas direkomendasikan sebagai album terbaik tahun 2015 ini selain album-album yang tercantum di atas? ayoo share disini gan… *ngomong sama malaikat lagi* 😛

 

 

GRACIAASSSSSSS ##$$&%^*%%%(

 

Hidden Evolution by Angelus Apatrida (Album Review)

Hello guys all around the internet… hope you guys enjoy in your time, everywhere and anywhere.. whatever.. meh!!!

jajahajaa..

Oke, sebelumnya saya ingin mengucapkan Heavy Nu Year buat para pembaca (itupun kalau ada hikz..), yah.. meskipun sepertinya superb telat banget ini ngucapinnya :p malah udah bulan yang kedua ini mah!!! weleh weleeehhh *skip skip skip*

Oke, berhubung saya lagi ndak sibuk.. saya mau review album baru nih, albumnya sih udah dari bulan januari kemaren, tapi gapapa lah yah… masih anget kok! :p

Check this out beibehhh

Angelus-Apatrida-album

Track List:

  1. Immortal
  2. First World of Terror
  3. Architects
  4. Tug of War
  5. Serpents on Parade
  6. Wanderers Forever
  7. End Man
  8. Speed of Light
  9. I Owe You Nothing
  10. Hidden Evolution
  11. Highway Star (Deep Purple Cover)

Ok.. dari cover di atas.. mungkin udah ada yang bisa nebak kalau band ini mengusung genre apa? ya kan? kalau boleh jujur… saya yakin para metalhead yang membaca tulisan saya setuju kalau rata-rata penikmat musik keras pasti menyukai bit dan riff musik Thrash Metal yang di kenal lewat BIG FOUR ini, entah itu penikmat musik Death Metal, Power Metal bahkan sampai Black Metal sekalipun… ya kan? Oke, bukan itu yang menjadi topik utama kali ini.. cuma berhubung band yang akan kita bicarakan ini adalah band Thrash Metal (Yah, intermezzo sedikitlah yah… CMIIW).

Cerita sedikit, Angelus Apatrida ini adalah band Thrash Metal yang berasal dari negeri matador, Albacete. Kota Albacete ini letaknya kira-kira 262 kilometer dari kota Madrid dan letaknya persis berada di sebelah tenggara kota Madrid tersebut. Kalau bicara bola, pasti saya yakin udah tahu lah yah bagaimana maju pesatnya perkembangan sepak bola di daratan spanyol ini, tapi kali ini saya ingin menekan kan juga bahwa pergerakkan musik metal disana juga ternyata engga kalah majunya dengan musik metal di daratan eropa lainnya bila di lihat dari segi kualitas dan segalanya. Sebut saja band seperti Dark Moor, Soulitude, Avalanch, Runic, Dragonfly, Avulsed (yang akan ikut meramaikan perhelatan Hammersonic bulan maret besok) dan masih banyak lagi, bahkan sampai band yang akan kita bicarakan disini, Angelus Apartida. Mereka kini tampil secara lebih universal menunjukkan bahwa musik metal spanyol juga patut diperhitungkan. NOTED!

Jika disini ada dari kalian yang setuju dengan pernyataan saya di atas, maka saya rekomendasikan untuk mendengar album dari band Angelus Apatrida Hidden Evolution yang mereka rilis pada bulan januari tahun ini.

Mengikuti kesuksesan album ketiga mereka yang rilis pada tahun 2010 Clockwork, band yang terbentuk awal tahun 2000an ini juga kembali memberikan sentuhan garang pada album Hidden Evolution ini. Guillermo Izquierdo “Polako” Cs ternyata paham betul dengan musik yang mereka usung, sehingga sentuhan musik yang mereka ciptakan ini benar-benar terasa sekali denyutan kesesakan ala Thrash Metal yang bagaimana semestinya. Riff gitar yang balance, solo yang begitu mengesankan hingga dentuman drum yang di balut oleh gaya hardcore punk dengan tempo cepat menambah lagu menjadi terdengar menyemangati para pendengarnya. Album ini benar-benar terdengar 100% Raw, saya sangat mengapresiasikan kerja keras Guillermo Izquierdo di posisi gitar dan vokal yang mengkombinasikan vokalnya dengan teriakkan kemarahan dan tone vokal ala Hetfield (menurut pendengaran saya pada lagu “Architects” :P) lalu di sokong oleh suara gitar Thrash Riffing Mr. David G. Álvarez.  Memang sih, dari beberapa review yang saya baca, sang vokalis banyak di pengaruhi oleh gaya vokal lain dan meskipun begitu ia tidak mempermasalahkannya. Contohnya seperti gaya vokal Matt Barlow (debut album), Chuck Billy (Album Give ‘Em War) and Dave Mustaine (Album Clockwork) telah di adopsi oleh Guillermo ke dalam musik mereka. Tetapi dalam album baru ini, Guillermo lebih banyak mengimprovisasikan gaya vokal sendiri meskipun masih ada sedikit terdengar style Mustaine dan Hetfield di dalamnya.

Gaya musik Metallica, Annihilator, Testament, Anthrax, Judas Priest dan Megadeth di mix jadi satu oleh mereka ke dalam album ini, dengan track-track sadis seperti “End Man”, “Architects” dan pastinya dengan track super cepet “Serpents On Parade” akan soap mengoyak telinga anda semua, oh iyah… dan juga ada track cover ‘Highway Star’ bagi pecinta band Hard Rock Deep Purple dengan aransemen yang akan memanjakan tidur malam anda. *blushiiiiiiiiiiiiiiing*

Kini kerja keras mereka terbayar sudah, dengan banyak mengikuti kesuskesan album sebelumnya Clockwork. Víctor Valera (Drum), José J. Izquierdo (Bass), Guillermo Izquierdo “Polako” (Gitar/Vokal) dan David G. Álvarez (Gitar) akan siap untuk menghadapi tantangan selanjutnya demi memuaskan hasrat para metalhead di dunia Thrash Metal. Saya rasa 4.8/5 adalah nilai yang pantas diberikan kepada album fantastis ini. Well, good work guys!!!

Musik ‘Post-‘

Hello guys… 🙂

Setelah menyimak judul tulisan di atas, kira-kira apa sih yang muncul dalam benak anda? pasti anda secara otomatis langsung mengingat genre seperti ‘post-rock’, ‘post-hardcore’, ‘post-metal’ dan lain sebagainya (just guessing). Lalu, apakah maksud dari kata ‘post’ tersebut yang melengkapi sebuah term (dalam hal ini sebut saja ‘term’ atau apalah terserah anda mau menyebutnya apa) tersebut? atau, bisakah term tersebut di samakan/ disetarakan dengan genre yang mengikutinya? Seperti contoh misalnya ‘post-punk’ sama dengan musik Punk Rock atau ‘post-hardcore’ pasti sama dengan musik Hardcore/ Hardcore punk..?! Apakah mereka hakekatnya dapat dikategorikan sebuah subgenre dari genre yang mengikutinya pada term-term tersebut? Silahkan jawab sendiri setelah membaca secara lengkap tulisan singkat yang saya buat ini. 🙂

Sebenarnya… dari hati saya yang puallingg terdalem (cieelahh.. lebaynyeee !#@$%&), saya paling ga suka ng-judge suatu genre.. apapun itu genre-nya, karena saya yakin tujuan semua band berkarir yaitu untuk memberikan suatu hiburan kepada tiap penikmatnya lewat karya-karya mereka yang brilliant (terkecuali band/ musisi aji mumpung yang hilang dan timbul memanfaatkan situasi mainstream).

So… this time, I wanna figure out what is suppose to be. Then i hope this article make things clear… ciaoo 🙂

Ternyata, “Post-” itu adalah sebuah movement atau bisa juga kita bilang dengan new wave dalam genre musik, yaitu musik yang mengambil/ mengadopsi unsur satu genre sebagai acuan namun lebih banyak memberi variasi ke dalam jenis musiknya melalui pengaruh-pengaruh musik yang berkembang di dunia modern dengan menciptakan sound yang tidak serupa dengan genre yang diikutinya, bisa dalam instrumen, efek, sound ataupun bisa juga melalui pesan yang dituangkan ke dalam lirik (dalam hal ini sih sedikit mirip artinya dengan musik progressive atau eksperimental yaitu banyak memberi ruang dalam membangun kreativitas yang di tuang lewat nada dalam karyanya yang di eksplor oleh tiap personel dalam suatu band, “yah ga mungkin juga donk kita menyebutnya progressive punk bila ia sebenarnya adalah post-punk dimana di dalam musiknya mengadopsi musik Punk Rock dengan menambah elemen-elemen musik yang berbeda ke dalam alur musiknya!” not make a sense at all).

Misalnya kita ambil contoh musik post-rock, mereka memang mengambil elemen-elemen musik Rock seperti style sound, mix atau penggunaan gitar electric. Namun mereka bermain dengan alunan nada atau riff yang bukan seperti genre Rock itu sendiri tetapi dengan melodi yang lain, ada yang menggunakan vokal dan kebanyakkan hanya berupa instrumental (katanya sih yang suka dengar jenis musik ‘post-‘ ini adalah tipe-tipe orang yang ingin sesuatu yang berbeda dan bisa ada juga yang menjadikan musik ini sebagai musik terapi… hehehe #NoOffense). Jadi musik yang dimainkan tidak terdengar seperti musik Rock. Sebut saja band post-rock yang banyak dikenal yaitu Explosions in the Sky (Amerika) dan Godspeed You! Black Emperor (Kanada). Perhatikan dan dengar musik yang mereka mainkan, sangat berbeda sekali dengan musik-musik Rock pada umumnya yang kita ketahui namun tetap memiliki warna yang indah tersendiri tiap kali mendengarkan musiknya.

Ada lagi contoh lain yaitu post-hardcore. Sama seperti post-rock (mengambil elemen sebuah genre yang mengikutinya setelah ‘post-‘), post-hardcore juga adalah sebuah term yang berkembang mengambil elemen musik dari Hardcore Punk namun memiliki gaya musik yang berbeda seperti musik Hardcore Punk itu sendiri. Contoh band yang menjadi pendahulu term ini seperti Saccharine Trust, Fugazi, Drive Like Jehu atau At The Drive-In, namun tetap menggunakan etnik DIY. Mereka mengambil banyak elemen-elemen musik dari para punggawa band Hardcore Punk seperti Minor Threat atau Bad Brains. Bahkan, Sunny Day Real Estate dan Rites of Spring yang notabene adalah band post-hardcore sukses di awal tahun 90an malah menjadi pentolan untuk genre yang lahir dari dalam post-harcore itu sendiri, yaitu Emo. Lalu, Emo itu sendiri akhirnya berkembang dengan caranya sendiri namun tetap memiliki konsep Hardcore Punk dalam pondasi musiknya.

Nah, sekarang bagaimana? apakah sudah terbayang dengan musik ‘post-‘ ini? memang agak lumayan ribet dan rumit menjelaskannya ke dalam kata-kata, saya pikir lebih gampang jika anda langsung mendengarkan satu per satu musiknya biar gampang ngebedainnya.
Kalau mungkin ada yang mau di sanggah atau ditanyakan, langsung aja komen disini yah… kita sharing bareng-bareng 😉

So, thank you for your attention! 🙂

TULUS – KHOLD – TULUS

1378_photo

Well, do you know what i’m saying about? yeah.. it’s all about Blodstrup and Sarke’s works!!!

Surprising me when the band like Mayhem, Gorgoroth, Immortal has build the strongest music for black metal supposed to be in early 90s that we have known ‘Second Wave of Black Metal’ or ‘Early Norwegian Black Metal’. Their music proceeded the early black metal like the band Venom, Mercyful Fate, Celtic Frost which have appeared before their existence. *Inter-fucking-mezzo*

Oke, lanjut ke topik yang sebenarnya.. hahaha. Sepengetahuan kita soal genre musik Black Metal yang berkembang pada awal 90an di Norway yang juga menjadi cikal bakal musik Black Metal di masa depan dimana hal ini menjadi lazim untuk di ketahui para metalhead dan juga sudah menjadi rahasia umum di kalangan pecinta musik keras. Beberapa nama-nama band pioneer yang saya cantumin di atas dan track lagu seperti ‘Transilvanian Hunger’, ‘Mother North’, ‘Ea Lord of the Depths’ juga pasti sudah tidak asing lagi di telinga bagi penikmat musik underground ini. Tapi ada satu band yang mau saya kupas sedikit kiprahnya pada kesempatan kali ini, yah… mereka adalah TULUS.

Terbentuk pada era ‘Early Norwegian Black Metal’ tepatnya pada tahun 1991, band ini berhasil menelurkan 3 album di sepanjang tahun 90an yaitu Pure Black Energy (1996), Mysterion (1998) dan Evill 1999 (1999) . Walaupun nama mereka engga se’wah’ Immortal ataupun Satyricon, namun musik mereka ga kalah bagusnya dengan band-band sebesar Darkthrone, Gorgoroth ataupun Thorns. Adalah Sverre ‘Gard/ Blodstrup’ Stokland (Vox) dan Thomas ‘Sarke’ Berglie (Drum) yang menjadi otak di balik musik black metal TULUS ini. Berdua mereka bereksploria membuat musik bagi para pecandu musik keras di daratan Oslo yang akhirnya merembet ke dunia luar di luar Norway. Style musik mereka yang berpusat pada gaya Norwegian Black Metal, terkhusus dengan teknik vokal dan guitar riffing dengan track song yang biasanya bermain di tempo setengah “Mid-Paced”/ tempo standar dan teratur ketimbang Speedier Blast-beat sound (Gabungan drum style ala Death Metal, kalau ngomongin Death Metal di page Black Metal itu rasanya jadi gimana gitu.. keinget Fenriz pernah nyeletup “fed up with the whole death metal scene”) dan tempo cepat ala Speed Metal dan Hardcore Punk/ crustpunk yang sering di gunakan pada masa-masa awal kemunculan musik Black Metal di era ‘First Wave of Black Metal’. Album awal mereka ‘Pure Black Energy’ sebenarnya mengacu pada standard musik Black Metal era kedua, namun ntah kenapa ada sesuatu yang mengingatkan saya pada album Gorgoroth Pentagram ketika mendengar beberapa list di album tersebut dan mungkin juga Tulus terinspirasi oleh gaya musik Infernus pada saat itu (mungkin juga sampai sekarang), namun demikian album tersebut adalah salah satu album rekaman Black Metal terpenting dari seluruh album-album Black Metal yang pernah dibuat. Dengan sound yang lebih fresh mengingat saat itu scene Norwegian Black Metal sudah menjadi blue print bagi para pelaku musik kvlt-nya daratan Norway saat itu. Masuk pada track pertama pada album Pure Black Energy ada track ‘Grav’, lagu ini memiliki sound kuat dengan dentuman drum mengikuti vokal Gard yang tak memiliki waktu jedah, lagu tersebut membuka Album Pure Black Energy ini dengan durasi kurang lebih 1 menitan. Lalu ada track “Wolf” pada urutan ke-8, intro awal yang bertolak belakang dengan susuan lagu sebenarnya ini membuat komposisi terlihat sangat fresh, belum lagi gitar riffing yang punya sound sedikit ng-thrash di dalamnya membuat track ini semakin ciamik.  “But something stuck out when I first heard it back in who knows when. I guess it invoked the basic feeling that black metal should”The unknown. Oke, karena ini bukan review mengenai album mereka, jadi saya tidak akan bercerita banyak tentang album awal mereka tersebut. Dan ada yang unik, dari semua lirik dalam musik TULUS (dan Khold setelahnya) di tulis oleh istri sang vokalis Blodstrump, yaitu Hildr yang banyak bercerita tentang Myth dan Dark Folklore. Sejak awal berdirinya mereka hingga hiatus pada akhir 90an, mereka telah menciptakan track-track  bagus seperti ‘Grav’ (yang telah saya paparkan sedikit di atas), ‘Samlerens Kammer’, ‘Skuggeskip’, ‘Mysterion’, ‘Salme’ hingga ‘Tarantulus’ hingga pada tahun 2000 mereka memutuskan untuk rehat.

Setelah itu, kedua bocah enerjik Blodstrump dan Sarke melanjutkan pengalaman bermusik mereka pada project mereka yang lain, Khold (begitu mereka menyebutnya). Bukan sembarang project, Khold malah lebih dikenal banyak orang ketimbang TULUS yang kita tahu adalah band pertama mereka. Keputusan mereka membentuk band Khold ini karena duo Blodstrump dan Sarke ingin membuat sebuah project ‘Beneran’ dengan line up komplit dengan merekrut Rinn (Guitar) dan Elkind (Bass).

Di lihat dari segi musik yang mereka buat seperti dari alunan guitar riff, vokal dan atmosfir keseluruhan musik Khold ini sangat kentara sekali dengan musik tradisional black metal ala Darkthrone, tetapi dengan perbedaan yang mencolok pada gaya musik mereka yang sering berubah-ubah dengan teknik blastbeat speed. Sedangkan band-band lain yang masuk kategori yang sama pada musik yang mereka mainkan, teman-teman bisa membandingkan sound mereka seperti Satyricon atau Thorns. Album yang berhasil mereka garap pun seperti ‘Masterpiss of Pain’, ‘Phantom’, ‘Morke Gravers Kammer’, ‘Krek’, ‘Hundre År Gammal‘, hingga yang terakhir di rilis tahun ini ‘Til Endes‘, memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Namun demikian, sejak Sarke membentuk Khold sepertinya ia menemukan sedikit ramuan ke dalam musiknya hingga itu berdampak pada TULUS sejak mereka kembali menjalankan project tersebut. Sejak terbentuknya Khold ini dan reuninya TULUS, sound TULUS seolah sedikit mengadaptasi musik Khold. Bisa di lihat dari rilisan album TULUS tahun 2012 kemaren Olm Og Bitter yang mempunyai sound serupa dan atmosfir yang sedikit mengingatkan kita pada sound yang di buat Sarke pada project Khold. Lagu-lagu yang memang ciri khas TULUS memiliki durasi hanya berkisar 2-3 menit disajikan keseluruhan hanya kurang lebih 30 menit. Yang berbeda disini antara TULUS dan Khold yaitu bisa di dengar dari tempo lagu TULUS yang lebih cepat, istilahnya sih track-track disini adalah track Khold dalam versi tempo yang lebih cepat. Karena kita tahu Khold bermain dengan tempo tidak cepat dan menggunakan downtuned string dan raw sound. Yah, album tersebut juga lebih fresh di banding album-album sebelumnya, ada track yang menyisipkan sedikit teknik arpeggios di dalamnya seperti yang ada pada track ‘Frossen Skog’ dan ada juga track dengan efek ber-atmosfer gelap seperti pada musik Depressive Black Metal pada track ‘Nidhevn’.  Yeah, you know that Khold’s sound is raw and stripped down… That’s what I mean. Sarke & Blodstrump are both TULUS and Khold.

Oke, buat yang lagi nyari-nyari referensi musik tradisional Black Metal yang lebih fresh, kalian bisa dengar TULUS selain dengarin band-band seperti Emperor atau Darkthrone.

Yah, segitu dulu aja ngalor ngidul dari saya… sorry kalau nulisnya ngacak, abis saya bukan penulis profesional sih.. CMIIW,

Kalau ada yang mau nanya, monggo dipersilahkeun… 🙂

Recommended Album:

TULUS > Pure Black Energy, Evil 1999, Biography Obscene

Khold > Masterpiss Of PainKrekHundre År Gammal