Black Metal

Mystical Future (2016) by Wildernessking

3540340820_photo

Wildernessking adalah band atmospheric black metal yang berasal dari daratan Cape Town, Afrika Selatan. Yah… band yang jauh dari pandangan kita pada hari ini, ternyata memiliki cukup amunisi mematikan untuk men-sejajarkan diri dengan band-band black metal top lainnya. Berdiri dengan nama Heathens, mereka mengusung tema musik black n ‘roll. Materi awal pada album pertama mereka secara eksplisit mengingatkan kita pada musik Enslaved namun dengan nuansa sedikit progresif ke Norwegia-an.

Pembuatan materinya dibuat dengan ringkas dan riffy, kalimat “atmospheric” yang tak terlintas dibenak saya-setidaknya sampai mereka merilis lagu “Morning” di tahun 2011. Pada tahun 2012, era baru dimulai ketika mereka mengubah nama band menjadi Wildernessking, merilis album perdana yang berjudul The Writing of Gods in the Sand yang menebar sound mereka ke arah yang lebih luas (baca: global). Rilisan ini membantu menyeimbangkan musik mereka antara komposisi raw, tone black metal dan konsep-konsep lain yang lebih mendalam guna menambah atmosfir gaya musik mereka.

Oke cukup intermezzo-nya 🙂

Dan, di awal tahun 2016 ini mereka pun telah mengeluarkan album kedua berjudul Mystical Future sebagaimana yang menjadi topik utama kita dalam blog saya ini-suatu proses petualangan baru yang akan mewarnai karir mereka ke depan dalam mengambil langkah yang lebih jauh, penekanan ke arah black metal yang lebih mendalam namun cathcy, materi yang bisa dibilang dewasa dengan sound yang di sedikit banyak mengarah ke tempo yang lebih lambat. Album ini menunjukkan ‘sedikit’ style Heathens dalam musiknya, sementara unsur dalam The Writing of Gods in the Sand masih cukup agresif bergelagat didalamnya, Mystical Future ditulis bagaikan kobaran api yang bergerak lambat.

Sound yang luas diserang oleh suara drum dan gitar dengan tempo lambat sebagai latar-dimana amunisi drum dari Jason Jardim yang paling jelas dalam demonstrasi ini. Ini berarti ketika musik mereka mencapai puncaknya, sound yang mereka miliki tidak akan pernah lepas dari unsur raw dan agresif black metal yang menggeliat. Dan bahkan ketika memperhatikan gaya vokal Keenan ke belakang, ia seperti meneriakkan liriknya tanpa microphone. Sound yang luas ini seolah-olah seperti menahan speed pada tempo musik mereka. Wildernessking membuat materi yang mencapai sisi ke-epic-an serta menyayat hati-yang serta merta mengingatkan materi terakhir band Anathema. Track penutup “If You Leave” yang menghadirkan suara halus oleh seorang wanita yang memberikan kesan epic yang mencapai puncaknya dalam menutup rentetan track terakhir. “With Arms Like Wands” menghadirkan varian blast dimana diisi oleh penggabungan beberapa kepingan-kepingan berbeda menjadi sesuatu yang terlihat lebih heavier dan intens-seperti pukulan butiran hujan yang turun kebawah, bayangkan itu. Track “If You Leave” yang menghadirkan copy-an nuansa menit pertama dari materi album Moonsorrow Varjoina kuljemme kuolleiden maassa yang membuat track penutup ini terdengar lebih suram dan melankolis. Lalu ada track “I Will Go To Your Tomb” yang terdapat sedikit unsur musik Heathens ataupun Enslaved sebelum masuk ke tempo yang sedikit lebih dinaikkan. Mystical Future menghadirkan sisi atmosfir Wildernessking yang begitu dalam dengan sentuhan yang begitu fantastis nan elegan; ada saat seperti rehat dalam meditasi, saat pecah dan sedikit getaran kencang yang berputar dihadapan anda-terutama pada betotan bass Keenan dan dentuman drum Jason berjalan bersama-sama. “To Transcend” menutup side A dengan potongan nuansa instrumental, melankolis dan indah, yang terdengar lebih ke Alcest daripada Enslaved.

549754

Side A
1. White Horses
2. I Will Go to Your Tomb
3. To Transcend

Side B
4. With Arms like Wands
5. If You Leave

Mystical Future adalah sebuah katalog menakjubkan yang pernah ada di muka bumi. Materi pada album ini sedikit sulit untuk di kompare dengan karya mereka sebelumnya The Writing of Gods in the Sand-meski ada beberapa alurnya ada dalam album ini. Ironisnya, band ini mengambil hal-hal yang saya pikir menjadi kelemahan dalam album awal mereka, tapi nyatanya mereka malah membuatnya dua kali lipat lebih dari yang kita pikirkan-mereka membuat materi yang memiliki sentuhan musik Moonsorrow dan October Falls (band yang memiliki kemampuan menavigasi pusaran lagu-lagu dengan durasi panjang mencekam).

Mystical Future mendarat di suatu tempat yang halus dan kasar yang berpotensi menghancurkan, yang tampaknya menjadi sesuatu persis yang Wildernessking ingkinkan. Lalu, apakah kemudian album ini menjadi salah satu rilisan yang paling terbaik di sepanjang tahun ini? Kita lihat saja nanti! Graciassss 🙂

Siapa itu Helheim? dan preview album “raunijaR”…

n18719

Courtesy of google

Saya cukup yakin dengan apa yang saya percaya ini bahwa band yang satu ini adalah salah satu band underrated di planet bumi, Helheim. Ya, band asal norwegia ini mengusung tema Viking ke dalam musik mereka dan membalutnya ke dalam musik black metal. Yang saya ketahui, dipertengahan tahun 90an tidak begitu banyak band black metal norwegia yang memiliki latar, sound dan tema tentang Viking yang begitu kental seperti band Helheim. Dan juga, saya yakin tidak banyak band diluar sana yang menggabungkan instrumen Harpa/ kecapi khas orang Yahudi dan tiupan terompet pada latar untuk mempertegas dan memberikan atmosfir mitologi norse yang sangat kuat dan sakral ke dalam musiknya seperti yang telah dilakukan oleh Helheim. Cerita itu berawal di tahun 1992, ketika itu V’gandr dan H’grimnir memiliki satu ide yang sama yaitu membuat musik metal. Namun tidak lengkap rasanya jika memainkan musik metal tanpa seorang drummer, lalu tak lama kemudian kehadiran Hrymr (drum) melengkapi formasi Helheim saat itu. Pada awalnya, saat itu mereka sangat menggebu-gebu akan musik yang mereka ciptakan lalu dibawakan pada acara musik lokal dan meski tanpa banyak pengalaman, mereka tidak takut untuk masuk ke stage. Helheim telah tampil dibeberapa festival di Bergen pada awal karir mereka dengan membawakan beberapa demo yang telah mereka buat (“Helheim”, “Niðr ok Norðr liggr Helvegr”). Helheim telah berusaha semaksimal mungkin dalam melakukan pergerakkannya lewat musik yang mereka usung lewat beberapa demo dan rilisan album yang telah mereka telurkan, serta telah membangun suatu karakter musik yang menggambarkan tentang bagaimana sesungguhnya dunia mereka.

Setelah 20 tahun berjalan dan berkembang, Helheim telah merilis album ke delapan mereka, raunijaR. Mungkin anda tidak pernah tahu apa yang dapat kita ekspektasikan dari setiap rilisan Helheim dan begitupun pada album raunijaR. Dengan begitu, ini saat yang tepat untuk menikmati kembali peluru yang telah mereka ciptakan.

Di satu sisi, bila kita amati konsep album Helheim secara keseluruhan adalah suatu konsep album berkelanjutan dari satu rilis ke rilisan lain; salah satu yang selalu berkembang disini bisa berupa bentuk sound dan juga bagian dalam suatu elemen cerita dalam lirik. Dengan album raunijaR di tahun 2015 ini, kita juga dapat melihat konsep musik yang berkelanjutan itu secara jelas. Misalnya dapat kita dengar pada opening track “Helheim 9” yang jelas berkaitan dengan bagian yang telah dimulai pada album EP Terrorveldet (1999). Di album raunijaR ini juga kita bisa melihat lanjutan quadrilogy “Asgards Fall” yang bagian sebelumnya dapat kita dengar pada album EP Asgards Fall (2010). Dan sesuai dengan konsep album raunijaR ini yang terdiri dari 5 track berdurasi kurang lebih 40 menit, kita seperti disuguhkan full-length album yang berkonsep ‘EP’ dengan mode classy namun tetap dengan materi yang solid.

 

Helheim-2.jpg

Courtesy of google

Apa yang dapat dirasakan pada track “Helheim 9” sebagian besar bertumpu pada clean-guitar yang begitu menonjol. Terutama, sound yang sangat kental dan kuat dari duo pentolan V’gandr (bass/vocal) dan H’grimnir (gitar/vocal). Meski album ini secara keseluruhan memiliki kejemukkan yang kasar-sebagaimana mestinya, mereka nyatanya memberikan sentuhan orkes menyayat lewat pipes angelic (sejenis pipa organ) ke dalam harmonisasi album raunijaR ini dan disini juga saya percaya faktanya bahwa mereka sebenarnya belum memperkenalkan materi dan senjata yang lain yang mereka miliki. Ayo terus disimak?!

Mereka terlihat terus berusaha meng-clean-kan hal itu, dan Viking-choir pada keseluruhan album dapat kita rasakan dalam track-track-nya dan puncaknya dapat kita dengar pada track terakhir “Odr”. Dengan taste yang kurang lebih mirip seperti band black metal Ulver. Vokal berlapis yang terdengar tanpa henti begitu terasa menusuk hingga akhirnya masuk kepada bagian akhir yang diisi oleh violin / piano. Dan disini kita dapat melihat bahwa penekanan vokal pada album ini lebih menonjol dari album mereka sebelumnya.

Dari semua lagu yang ada pada album raunijaR,”Asgards Fall III” dan “Asgards Fall IV” lah yang paling menyita perhatian saya. Tiap kali saya menemukan “Asgards Fall I” dan “Asgards Fall II”, woow.. rasanya seperti saya masuk ke dalam suatu dimensi Viking dalam dunia yang mereka ciptakan, begitu dalam dan gelap. Opening track dibuka dengan sayatan akustik gitar yang menawan, part “III” dari Asgards Fall ini langsung menusuk dengan musik berat ala Bathory lengkap dengan Viking-choirs dan dentuman drum terdengar seperti telah dimulainya genderang perang. Part “IV” melanjutkan bagian sebelumnya yang lebih ditonjolkan dari sisi duet vokalnya yang bisa kita dengar pada part “III”, dan hal ini semakin menunjukkan kebesaran yang kuat akan musikalitas Helheim. Paruh pertama dari track itu dimulai dengan suara drum sebelum nantinya benar-benar berhenti pada titik tengah. Dari sini, kita selanjutnya dapat mendengarkan gemuruh riff gitar yang sedikit lemah dan sepertinya mereka terinspirasi dari beberapa sound Immortal, lalu kesimpulannya aransemen yang mereka buat diisi dengan solo gitar, Viking-choirs, jedah sekmen dengan lirik yang dibacakan seperti suatu doa dan atmosfir kelam yang dibangun dengan sedemikian rupa sehingga kesan gelap yang teramat dalam dapat dirasakan para pendengarnya. Meski terdengar komplit, namun secara musikalitas part “I” dan “II” lebih efektif didengar dalam menjulang ke inti poin.

Selanjutnya, kita harus mengapresiasikan kerja mereka karena sejauh yang saya lihat mereka telah benar-benar keluar dari zona nyaman dan meski mungkin ada dari kalian yang mendengar ada beberapa musik mereka yang belum benar-benar bekerja, tapi bagaimanapun kita tidak bisa membantah bahwa album mereka ini sangat nyaman untuk didengar. Potongan lagu “Asgards Fall” dan “Odr” yang dibuat panjang dan banyak elemen-elemen didalamnya namun tidak seutuhnya rancu.

Dengan hal-hal disamping tersebut, band yang tanpa menggunakan corpse paint ini terus berjalan begitu meyakinkan setelah melewati 2 dekade yang panjang, dan raunijaR adalah bukti lain yang mengisi perjalanan dari kebesaran band ini.

raunijaR (2015)

004886194_500.jpg

Track
1.     Helheim 9     04:30
2.     Raunijar     05:28
3.     Åsgards fall III 12:25
4.     Åsgards fall IV 08:40
5.     Odr     10:27

TULUS – KHOLD – TULUS

1378_photo

Well, do you know what i’m saying about? yeah.. it’s all about Blodstrup and Sarke’s works!!!

Surprising me when the band like Mayhem, Gorgoroth, Immortal has build the strongest music for black metal supposed to be in early 90s that we have known ‘Second Wave of Black Metal’ or ‘Early Norwegian Black Metal’. Their music proceeded the early black metal like the band Venom, Mercyful Fate, Celtic Frost which have appeared before their existence. *Inter-fucking-mezzo*

Oke, lanjut ke topik yang sebenarnya.. hahaha. Sepengetahuan kita soal genre musik Black Metal yang berkembang pada awal 90an di Norway yang juga menjadi cikal bakal musik Black Metal di masa depan dimana hal ini menjadi lazim untuk di ketahui para metalhead dan juga sudah menjadi rahasia umum di kalangan pecinta musik keras. Beberapa nama-nama band pioneer yang saya cantumin di atas dan track lagu seperti ‘Transilvanian Hunger’, ‘Mother North’, ‘Ea Lord of the Depths’ juga pasti sudah tidak asing lagi di telinga bagi penikmat musik underground ini. Tapi ada satu band yang mau saya kupas sedikit kiprahnya pada kesempatan kali ini, yah… mereka adalah TULUS.

Terbentuk pada era ‘Early Norwegian Black Metal’ tepatnya pada tahun 1991, band ini berhasil menelurkan 3 album di sepanjang tahun 90an yaitu Pure Black Energy (1996), Mysterion (1998) dan Evill 1999 (1999) . Walaupun nama mereka engga se’wah’ Immortal ataupun Satyricon, namun musik mereka ga kalah bagusnya dengan band-band sebesar Darkthrone, Gorgoroth ataupun Thorns. Adalah Sverre ‘Gard/ Blodstrup’ Stokland (Vox) dan Thomas ‘Sarke’ Berglie (Drum) yang menjadi otak di balik musik black metal TULUS ini. Berdua mereka bereksploria membuat musik bagi para pecandu musik keras di daratan Oslo yang akhirnya merembet ke dunia luar di luar Norway. Style musik mereka yang berpusat pada gaya Norwegian Black Metal, terkhusus dengan teknik vokal dan guitar riffing dengan track song yang biasanya bermain di tempo setengah “Mid-Paced”/ tempo standar dan teratur ketimbang Speedier Blast-beat sound (Gabungan drum style ala Death Metal, kalau ngomongin Death Metal di page Black Metal itu rasanya jadi gimana gitu.. keinget Fenriz pernah nyeletup “fed up with the whole death metal scene”) dan tempo cepat ala Speed Metal dan Hardcore Punk/ crustpunk yang sering di gunakan pada masa-masa awal kemunculan musik Black Metal di era ‘First Wave of Black Metal’. Album awal mereka ‘Pure Black Energy’ sebenarnya mengacu pada standard musik Black Metal era kedua, namun ntah kenapa ada sesuatu yang mengingatkan saya pada album Gorgoroth Pentagram ketika mendengar beberapa list di album tersebut dan mungkin juga Tulus terinspirasi oleh gaya musik Infernus pada saat itu (mungkin juga sampai sekarang), namun demikian album tersebut adalah salah satu album rekaman Black Metal terpenting dari seluruh album-album Black Metal yang pernah dibuat. Dengan sound yang lebih fresh mengingat saat itu scene Norwegian Black Metal sudah menjadi blue print bagi para pelaku musik kvlt-nya daratan Norway saat itu. Masuk pada track pertama pada album Pure Black Energy ada track ‘Grav’, lagu ini memiliki sound kuat dengan dentuman drum mengikuti vokal Gard yang tak memiliki waktu jedah, lagu tersebut membuka Album Pure Black Energy ini dengan durasi kurang lebih 1 menitan. Lalu ada track “Wolf” pada urutan ke-8, intro awal yang bertolak belakang dengan susuan lagu sebenarnya ini membuat komposisi terlihat sangat fresh, belum lagi gitar riffing yang punya sound sedikit ng-thrash di dalamnya membuat track ini semakin ciamik.  “But something stuck out when I first heard it back in who knows when. I guess it invoked the basic feeling that black metal should”The unknown. Oke, karena ini bukan review mengenai album mereka, jadi saya tidak akan bercerita banyak tentang album awal mereka tersebut. Dan ada yang unik, dari semua lirik dalam musik TULUS (dan Khold setelahnya) di tulis oleh istri sang vokalis Blodstrump, yaitu Hildr yang banyak bercerita tentang Myth dan Dark Folklore. Sejak awal berdirinya mereka hingga hiatus pada akhir 90an, mereka telah menciptakan track-track  bagus seperti ‘Grav’ (yang telah saya paparkan sedikit di atas), ‘Samlerens Kammer’, ‘Skuggeskip’, ‘Mysterion’, ‘Salme’ hingga ‘Tarantulus’ hingga pada tahun 2000 mereka memutuskan untuk rehat.

Setelah itu, kedua bocah enerjik Blodstrump dan Sarke melanjutkan pengalaman bermusik mereka pada project mereka yang lain, Khold (begitu mereka menyebutnya). Bukan sembarang project, Khold malah lebih dikenal banyak orang ketimbang TULUS yang kita tahu adalah band pertama mereka. Keputusan mereka membentuk band Khold ini karena duo Blodstrump dan Sarke ingin membuat sebuah project ‘Beneran’ dengan line up komplit dengan merekrut Rinn (Guitar) dan Elkind (Bass).

Di lihat dari segi musik yang mereka buat seperti dari alunan guitar riff, vokal dan atmosfir keseluruhan musik Khold ini sangat kentara sekali dengan musik tradisional black metal ala Darkthrone, tetapi dengan perbedaan yang mencolok pada gaya musik mereka yang sering berubah-ubah dengan teknik blastbeat speed. Sedangkan band-band lain yang masuk kategori yang sama pada musik yang mereka mainkan, teman-teman bisa membandingkan sound mereka seperti Satyricon atau Thorns. Album yang berhasil mereka garap pun seperti ‘Masterpiss of Pain’, ‘Phantom’, ‘Morke Gravers Kammer’, ‘Krek’, ‘Hundre År Gammal‘, hingga yang terakhir di rilis tahun ini ‘Til Endes‘, memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Namun demikian, sejak Sarke membentuk Khold sepertinya ia menemukan sedikit ramuan ke dalam musiknya hingga itu berdampak pada TULUS sejak mereka kembali menjalankan project tersebut. Sejak terbentuknya Khold ini dan reuninya TULUS, sound TULUS seolah sedikit mengadaptasi musik Khold. Bisa di lihat dari rilisan album TULUS tahun 2012 kemaren Olm Og Bitter yang mempunyai sound serupa dan atmosfir yang sedikit mengingatkan kita pada sound yang di buat Sarke pada project Khold. Lagu-lagu yang memang ciri khas TULUS memiliki durasi hanya berkisar 2-3 menit disajikan keseluruhan hanya kurang lebih 30 menit. Yang berbeda disini antara TULUS dan Khold yaitu bisa di dengar dari tempo lagu TULUS yang lebih cepat, istilahnya sih track-track disini adalah track Khold dalam versi tempo yang lebih cepat. Karena kita tahu Khold bermain dengan tempo tidak cepat dan menggunakan downtuned string dan raw sound. Yah, album tersebut juga lebih fresh di banding album-album sebelumnya, ada track yang menyisipkan sedikit teknik arpeggios di dalamnya seperti yang ada pada track ‘Frossen Skog’ dan ada juga track dengan efek ber-atmosfer gelap seperti pada musik Depressive Black Metal pada track ‘Nidhevn’.  Yeah, you know that Khold’s sound is raw and stripped down… That’s what I mean. Sarke & Blodstrump are both TULUS and Khold.

Oke, buat yang lagi nyari-nyari referensi musik tradisional Black Metal yang lebih fresh, kalian bisa dengar TULUS selain dengarin band-band seperti Emperor atau Darkthrone.

Yah, segitu dulu aja ngalor ngidul dari saya… sorry kalau nulisnya ngacak, abis saya bukan penulis profesional sih.. CMIIW,

Kalau ada yang mau nanya, monggo dipersilahkeun… 🙂

Recommended Album:

TULUS > Pure Black Energy, Evil 1999, Biography Obscene

Khold > Masterpiss Of PainKrekHundre År Gammal