Uncategorized

Megadeth Live on Hammersonic 2017

IMG_7718

Megadeth on Hammersonic 2017 (Photo by MySelf)

Hello me, meet the real me *: *jajajahaha… efek masih kerasa euforia acara semalem*

Rasanya sudah lama sekali saya tidak menyentuh page saya ini. Mungkin Karena saya (sok) terlalu sibuk. Jajahaha.. okelah langsung saja, Karena keperluan saya disini untuk membagi sedikit cerita (bahagia) saya kepada kalian semuanya (re: ditujukan untuk para pembaca yang berada di kampung Shire dan planet Namec serta seisi makhluk hidup yang ada di dunia Guardian of the Galaxy). LMAO

Tadi malam, saya dan my bae (yg selalu setia menemani) menghadiri gelaran acara tahunan Hammersonic 2017 yang secara hitungan sudah berjalan sejak tahun 2012 berturut-turut dan tadi malam adalah gelaran yang ke-6. Secara pribadi saya telah mengikuti acara ini sejak acara ini bergulir perdana pada tahun 2012 lalu dan hanya absen di tahun 2016 artinya dari ke-6 acara tahunan ini berlangsung, saya sudah hadir 5 kali. Dan yah, saya akui di acara tahun ini, semua berjalan sangat baik dari sebelumnya dan crew serta management Hammersonic telah bekerja sangat baik seperti yang seharusnya. Dari segi keamanan, jadwal acara yang tidak ngaret dan tempat dan segala fasilitasnya yang memadai yang selalu diperbaiki tiap tahunnya membawa dampak baik dan sekaligus suatu hasil yang menurut saya harus dipertahankan dan ditingkatkan lagi mengingat acara seperti ini sangatlah dibutuhkan setiap tahunnya, dimana kami sebagai penikmat musik dapat saling bertemu teman baru dan bersenang-senang bersama menikmati musik keras yang menjadi ideology kami. Haha, Bahasa saya sok keren banget ya… CMIIW

Intinya saya kasih nilai 9/10 untuk acara semalam. Kalian rwarrrbyasaaa Hammersonic :beer

Then… actually the reason I attended to this festival because of Megadeth. :Peace Saya dan my bae tiba di lokasi sekitar jam 7 lebih. Setelah melewati entry check, saya melewati Soul of Steel: Krisna Sadrach Stage di ruang paling depan sebelum memasuki arena sesungguhnya. Stage itu dibuat khusus untuk menghormati salah satu pentolan dan sang legenda hidup musik keras di tanah air, Alm Krisna Sadrach yang beberapa waktu lalu telah pergi mendahului kita. Disitu saya tidak terlalu lama, karena perut saya yang sudah tidak bisa diajak kompromi, saya dan my bae langsung mencari food court di sekitar arena yang telah disediakan oleh panitia untuk makan malam. Sembari makan, saat itu Earth Crisis yang sedang memainkan perannya di stage Hammer, penampilan Buechner dkk mendapat apresiasi oleh para penikmatnya yang hadir malam itu. Lagu-lagu andalan mereka seperti: “Gomorrah’s Season Ends” dan “Firestrom” juga mereka bawa untuk menghidupkan acara tersebut setelah sebelumnya acara break sejak jam 6 sore. Setelah penampilan mereka ada Whitechapel, saya melwatai perform dari mereka karena saat itu saya dan my bae memutuskan untuk rehat sebentar untuk me-recharge ponsel kami dan tentunya diri kami untuk mempersiapkan tenaga pada acara puncak yang kami nantikan 😊.  Lalu ketika The Black Dahlia Murder mendapat jadwal main di stage Hammer setelah Whitechapel, saya sudah mengambil ancang-ancang untuk mencari posisi terbaik untuk melihat Megadeth di tepatnya di area depan stage Sonic. Dan karena bukan saya saja yang berpikir seperti itu, metalhead yang lain juga ternyata banyak juga yang melakukan hal yang sama seperti yang saya lakukan: mencari posisi terbaik di depan stage Sonic 😝. Oke setelah saya merasa sudah berada di posisi yang tepat (tidak terlalu di depan juga sih), Saya dan my bae hanya melakukan aktivitas-aktivitas kecil seperti ngobrol membicarakan acara, memeriksa phone kami dan melihat hal-hal lucu lain yang kami dapati disana selama acara berlangsung. Ada sedikit missed ketika The Black Dahlia Murder sedang main, sound mick untuk backing vocals Brian Eschbach tiba-tiba hilang secara mendadak dan saya melihat Trevor mengeluarkan ekpspresi muka yang sedikit kecewa ketika ia sedang on stage. Tapi untungnya kejadian tersebut langsung cepat teratasi. Setelah mereka memainkan beberapa lagu terakhir yaitu “Abysmal”, “Deadmask Divine” dan “I Will Return”, The Black Dahlia Murder harus menyudahi acara mereka. Dan FYI sebelum ini, yang saya ingat The Black Dahlia Murder terakhir datang ke Jakarta pada tahun 2012  waktu itu dalam rangka tour “Ritual World Tour”. Oke setelah penampilan mereka, Abbath mendapat kesempatan melanjutkan acara di Sonic stage. Ketika mereka bermain, tempat dimana saya tadinya duduk mendadak menjadi ramai karena ternyata penampilan Abbath sudah ditunggu-tunggu oleh ribuan hadirin yang berada disana. Saya pun ikut terhanyut oleh penampilan Abbath yang menurut saya ternyata dibalik corpse paint-nya yang sangar sang leader Olve Eikemo adalah seorang yang memiliki selera humor yang baik. Terbukti dengan beberapa kali ia mengeluarkan kelakar yang menghibur dan membuat saya dan teman-teman metalhead disana tersenyum. Ex-Immortal tersebut membawakan beberapa lagu andalannya seperti: “To War!”, “Fenrir Hunts”, “Ashes of the Damned”, “Count the Dead”. Sekitar hampir satu jam mereka menghibur para penggemar yang hadir, akhirnya waktu mereka selesai lalu dilanjut dengan penampilan berikutnya oleh Tarja.

IMG_7695

Abbath on Hammersonic 2017 (Photo by Myself)

Disitu saya sedikit berpikir, apa yang ada atau yang sedang dipikirkan oleh penyelenggara acara ketika mengundang kedua ex ini secara bersamaan: ex-Immortal dan ex-Nightwish. Tapi apapun alasannya whatever, kedua band ini telah menampilkan performa terbaik mereka dan tidak mengecewakan para penggemarnya malam itu. Oke skip skip skip… akhirnya, puncak acara yang saya dan my bae (juga teman-teman metalhead tentunya) sudah tunggu-tunggu dari tadi tiba juga. Sekitar jam 23.15an yang saya ingat, intro “Prince of Darkness” menggelegar dan membuat acara puncak tersebut menjadi sangat-sangat ramai karena massa yang datang makin banyak bak semut yang sedang berkumpul mengelilingi makanan. Setelah intro “Prince of Darkness” memanas, lalu mereka: Dave Mustaine, David Ellefson, Kiko Loureiro, Dirk Verbeuren, akhirnya muncul pada stage Sonic dan sontak membuat suasana makin panas dan menggelegar setelah mereka memainkan lagu pertamanya “Hangar 18”. Saya dan my bae berada ditengah lautan massa metalhead yang hadir. Saya melihat betapa senangnya ekspresi para metalhead yang hadir bersama saya saat itu yang saya baca dari ekspresi wajah-wajah mereka telah menunggu kehadiran Megadeth sudah bertahun-tahun dan akhirnya terpenuhi juga malam itu.

IMG_7735

Megadeth on Hammersonic 2017 (Photo by Myself)

What a great night to remember! Para metalhead yang hadir melakukan sing a long beberapa kali, banging dan juga beberapa kali jumping in the air mengikuti alur musik yang Megadeth mainkan. Dari sound yang saya dengar selama acara itu berlangsung, sound Megadeth yang benar-benar balance dan pure clean. Drumkit yang dimainkan oleh Dirk juga terdengar killer sesuai ekspektasi saya. Juga permainan gitar Kiko yang ternyata benar-benar memiliki skill mumpuni untuk mengisi lead guitar dibuktikan semalam lewat kebolehannya menaklukan 6 string gitar, ia juga melakukan vlog pada saat lagu “Conquer and Die” yang ditayangkan pada layar ketika itu. Menurut saya, Megadeth telah mendapatkan gitaris yang tepat setelah beberapa kali pos lineup gitaris ini telah berganti beberapa kali setelah ditinggal Marty.

IMG_7721

David Ellefson sang bassis yang terlihat kalem beberapa kali menyapa penonton dengan gaya khasnya dengan melempar senyuman. Makin malam acara makin garang, massa juga semakin berdesak-desakan ingin maju ke depan supaya bisa melihat Dave Mustaine dkk lebih jelas.

IMG_7697

Dirk’s Drum Set (Photo by Myself)

Sempat terjadi sedikit desakan keras ditempat saya, namun langsung kondusif. Lagu-lagu dari album lama dan album baru dimainkan bersama saling berganti sedemikian rupa seperti: “Wake Up Dead”, “In My Darkest Hour”, “The Threat Is Real” dan saya ingat saat itu sebelum membawakan lagu “She-Wolf”, Dave Mustaine mengatakan sesuatu yg terdengar kira-kira begini: “This song is about an ex-wife of an ex-friend ” 😊.  Sesaat setelah itu, finally lagu yang saya tunggu-tunggu akhirnya dimainkan juga “Tornado of Souls”, hehe. Lewat khas intro dari lagu “Tornado of Souls”  tersebut kami semua langsung dibawa hanyut oleh lagu yang berasal dari album ke-4 Megadeth itu . Lagu “Dystopia” dari album baru mereka yang mendapat penghargaan Grammy Awards 2017 beberapa waktu lalu juga dibawakan oleh mereka malam itu. Saya sangat puas dengan penampilan Megadeth yang tanpa celah semalam, pure talent dan benar-benar layak menyandang gelar sebagai band legenda metal sepanjang masa. Bahkan ngga tahu kenapa saya begitu bahagia melebihi rasa bahagia saya sebelumnya ketika menghadiri konser Metallica 2013 silam. Bukan untuk membanding-bandingkan mereka juga sih, karena saya pikir kedua band tersebut tidak bisa kita pungkiri adalah band terdepan yang telah banyak membawa jiwa-jiwa baru masuk ke dalam dunia musik keras ini, namun rasa amazed yang saya rasakan setelah melihat penampilan Megadeth semalam benar-benar berbeda dan masih terasa euforia-nya sampai saat saya sedang menuliskan tulisan ini.

IMG_7734

Dave Mustaine on Hammersonic 2017 (Photo by MySelf)

Dave Mustaine, yang saya tahu telah melewati banyak kondisi dan makan asam garam dalam memperjuangkan karirnya bersama bandnya telah lebih dari dua dekade bermusik yang membuat ia sangat berkharisma sebagai leader. Saya sangat mengapresiasikannya yang sudah malang melintang sejak band pertamanya Panic sekitar tahun akhir 70an / awal 80an. Oke, lanjut ke cerita semalam, setelah Megadeth membawakan lagu anthem classic mereka dari album Peace Sells, But Who’s Buying? yakni lagu yang sama dengan judul albumnya “Peace Sells”, ada  sesi encore beberapa saat yang ditandakan dengan padamnya lightning stage beberapa saat. Saat keadaan itu berlangsung, kerumunan metalhead terus meneriakkan “We want more… we want more…” berulang-ulang yang makin lama makin diteriakkan kenceng sekali. Akhirnya Megadeth pun muncul kembali dari belakang stage untuk menyudahi acara mereka dengan lagu “Holy Wars” sebagai senjata penutup perjumpaan dengan kami malam itu. Dengan berakhirnya lagu tersebut maka mereka telah membawakan lagu dengan total 17 pada penampilan mereka semalam. Penampilan warbyasaa dari Megadeth yang sayang jika dilewatkan ini terbayar sudah dengan penampilan mereka yang mengagumkan, enerjik dan dengan sound yang begitu istimewa bak genderang perang yang terdengar memecah langit malam. Meski sudah tidak muda lagi, namun energi yang dikeluarkan dan kecintaan akan musiknya, Dave Mustaine seakan tidak termakan oleh usia, He’s true living legend. mungkin butuh waktu beberapa tahun lagi bisa menyaksikan mereka lagi disini. What a great night to remember. Malam yang akan selalu saya ingat sampai kapanpun. Terima kasih untuk seluruh manajemen Hammersonic yang sudah bekerja dengan baik dan sudah megundang Megadeth. Thank for a million times!

#NeverForget507 #Hammersonic2017

Megadeth‘s Setlist on Hammersonic Festival 2017:

  • Prince of Darkness (Opening Intro – Sound from Tape)
  • Hangar 18
  • Wake Up Dead
  • In My Darkest Hour
  • The Threat Is Real
  • Conquer Or Die
  • lying In State
  • Sweating Bullets
  • Trust
  • She-Wolf
  • Poisonous Shadows
  • Fatal Illusion
  • A Tout Le Monde
  • Tornado of Souls
  • Dystopia
  • Symphony of Destruction
  • Peace Sells
  • Holy Wars

You’re The Inspiration 

Sosok wanita ini benar-benar sangat memikat hatiku, seorang yang penuh dengan semangat yang tinggi dan juga memiliki segudang ide yang tertanam dalam pikirannya yang mungkin sudah ada sejak ia dilahirkan. Terlepas dia adalah wanita spesial dalam hidup saya, saya akui dia juga adalah seorang mentor dan motivator pribadi saya yang tak henti-hentinya memberi dukungan penuh kepada saya. Saya sangat beruntung bisa mengenalnya sedekat ini. Ia adalah wanita tertangguh yang pernah saya temui, mungkin lebih tangguh dari ibu saya di rumah. Kini, hal terpenting yang harus saya lakukan adalah untuk terus berjuang dengannya dan juga membantunya dalam setiap hal yang yg ia butuhkan. Terima kasih sayang untuk kasih sayangmu padaku yang benar-benar tulus, sabar dan ikhlas. You’re the inspiration. Tuhan Yesus memberkati! 
I’ll go with you wherever you will go 💏

South of Djakarta, October 27th 2016

Kammarheit – The Nest

kammarheit_thenest

Sedikit review (telat) album The Nest milik the Almighty Dark Drone Ambient, Kammarheit. Apa yang anda bisa lihat sekilas tentang album ini? Suram? Sedih? Kelam? Melankolis? Ya… Semua hal yang menyangkut kata-kata tersebut memang dituangkan di dalam album The Nest milik Kammerheit yang satu ini, sudah bisa ditebak dari cover albumnya yang menampilkan kira-kira sebuah bukit berkabut. 🙂

Ada kesedihan yang begitu mendalam pada album ini yang berjalan pelan didalam kelabilan yang menyelimuti kesuraman di tiap detiknya. The Nest adalah album dark(ish) ambient yang (selalu) memberikan materi solid sehingga tiap pendengar khususnya saya akan bertanya-tanya dan tidak hentinya berpikir kesuraman apa yang akan terjadi selanjutnya di tiap track. Bagi saya, semua tentang kesuraman yang terdapat pada tiap nada, seakan berjalan pelan bagaikan angin yang berhembus dan menusuk di keheningan malam, itulah gambaran musik Kammarheit yang telah kembali setelah berdiam diri selama satu dekade dan kini telah kembali menyambung susunan kepingan puzzle yang telah mereka ciptakan dahulu kepada penggemarnya (ter-khusus saya).

Banyak orang yang berpikir bahwa mereka dapat melindungi orang-orang yang mereka cintai dan mengabdikan dirinya untuk melindungi mereka terhadap semua bahaya di sekitar mereka, tetapi ketika garis antara kasih sayang dan obsesi disilangkan dan saling berlawanan??? begitulah sepintas kurang lebih gambaran/ perumpamaan materi yang dituangkan pada album ini. Tidak ada aura kemarahan atau apapun yang terbakar disini, tapi apa yang dapat anda dengar disini adalah suatu refleksi pendekatan yang tampaknya berdiri menatap anda kembali dari waktu ke waktu. Ini sebuah rancangan kesesakkan yang dibangun untuk memaksa sesuatu yang tersembunyi muncul ke permukaan. Sesuatu yang selalu dijalankan mereka lewat karyanya, namun kali ini tampaknya dengan hal baru yang belum pernah dituangkan pada karya-karya terdahulu. Bisa dibilang, Kammarheit telah menciptakan album ini buat para penderita insomnia dengan nada samar-samar yang datang dari masa lalu, ke masa kini… dan menghilang. The Nest dirancang untuk  memperluas selera anda sejauh yang sudah anda dengar selama ini, seolah-olah apa yang telah disimpan kini siap diterbangkan ke udara.

Waktu ini adalah waktu yang paling luar biasa bagi para penggemar Kammerheit (bila ingin mempertegas) tapi jangan pernah berpikir mereka melakukan semuanya dengan mudah. Seperti album sebelumnya, ada tema untuk di eksplorasi tapi bukan suatu yang menyenangkan dan ini bukanlah suatu yang tergesa-gesa. Dan setelah sekian lama, style yang mereka ciptakan terus berevolusi ke arah yang semakin baik dengan musik yang bisa dibilang semakin sunyi dan sepi. Jika anda memiliki selera musik ambient yang tidak terlalu gelap, maka cobalah album yang satu ini. Di jamin selera anda akan berubah setelah mendengarkan The Nest.

Track Listing :

1. Borgafjäll
2. Unsealed
3. Lower Halls
4. The Howl
5. Sphaerula
6. Hypogaeum
7. The Nest
8. Sung in Secret
9. Aeon

Mystical Future (2016) by Wildernessking

3540340820_photo

Wildernessking adalah band atmospheric black metal yang berasal dari daratan Cape Town, Afrika Selatan. Yah… band yang jauh dari pandangan kita pada hari ini, ternyata memiliki cukup amunisi mematikan untuk men-sejajarkan diri dengan band-band black metal top lainnya. Berdiri dengan nama Heathens, mereka mengusung tema musik black n ‘roll. Materi awal pada album pertama mereka secara eksplisit mengingatkan kita pada musik Enslaved namun dengan nuansa sedikit progresif ke Norwegia-an.

Pembuatan materinya dibuat dengan ringkas dan riffy, kalimat “atmospheric” yang tak terlintas dibenak saya-setidaknya sampai mereka merilis lagu “Morning” di tahun 2011. Pada tahun 2012, era baru dimulai ketika mereka mengubah nama band menjadi Wildernessking, merilis album perdana yang berjudul The Writing of Gods in the Sand yang menebar sound mereka ke arah yang lebih luas (baca: global). Rilisan ini membantu menyeimbangkan musik mereka antara komposisi raw, tone black metal dan konsep-konsep lain yang lebih mendalam guna menambah atmosfir gaya musik mereka.

Oke cukup intermezzo-nya 🙂

Dan, di awal tahun 2016 ini mereka pun telah mengeluarkan album kedua berjudul Mystical Future sebagaimana yang menjadi topik utama kita dalam blog saya ini-suatu proses petualangan baru yang akan mewarnai karir mereka ke depan dalam mengambil langkah yang lebih jauh, penekanan ke arah black metal yang lebih mendalam namun cathcy, materi yang bisa dibilang dewasa dengan sound yang di sedikit banyak mengarah ke tempo yang lebih lambat. Album ini menunjukkan ‘sedikit’ style Heathens dalam musiknya, sementara unsur dalam The Writing of Gods in the Sand masih cukup agresif bergelagat didalamnya, Mystical Future ditulis bagaikan kobaran api yang bergerak lambat.

Sound yang luas diserang oleh suara drum dan gitar dengan tempo lambat sebagai latar-dimana amunisi drum dari Jason Jardim yang paling jelas dalam demonstrasi ini. Ini berarti ketika musik mereka mencapai puncaknya, sound yang mereka miliki tidak akan pernah lepas dari unsur raw dan agresif black metal yang menggeliat. Dan bahkan ketika memperhatikan gaya vokal Keenan ke belakang, ia seperti meneriakkan liriknya tanpa microphone. Sound yang luas ini seolah-olah seperti menahan speed pada tempo musik mereka. Wildernessking membuat materi yang mencapai sisi ke-epic-an serta menyayat hati-yang serta merta mengingatkan materi terakhir band Anathema. Track penutup “If You Leave” yang menghadirkan suara halus oleh seorang wanita yang memberikan kesan epic yang mencapai puncaknya dalam menutup rentetan track terakhir. “With Arms Like Wands” menghadirkan varian blast dimana diisi oleh penggabungan beberapa kepingan-kepingan berbeda menjadi sesuatu yang terlihat lebih heavier dan intens-seperti pukulan butiran hujan yang turun kebawah, bayangkan itu. Track “If You Leave” yang menghadirkan copy-an nuansa menit pertama dari materi album Moonsorrow Varjoina kuljemme kuolleiden maassa yang membuat track penutup ini terdengar lebih suram dan melankolis. Lalu ada track “I Will Go To Your Tomb” yang terdapat sedikit unsur musik Heathens ataupun Enslaved sebelum masuk ke tempo yang sedikit lebih dinaikkan. Mystical Future menghadirkan sisi atmosfir Wildernessking yang begitu dalam dengan sentuhan yang begitu fantastis nan elegan; ada saat seperti rehat dalam meditasi, saat pecah dan sedikit getaran kencang yang berputar dihadapan anda-terutama pada betotan bass Keenan dan dentuman drum Jason berjalan bersama-sama. “To Transcend” menutup side A dengan potongan nuansa instrumental, melankolis dan indah, yang terdengar lebih ke Alcest daripada Enslaved.

549754

Side A
1. White Horses
2. I Will Go to Your Tomb
3. To Transcend

Side B
4. With Arms like Wands
5. If You Leave

Mystical Future adalah sebuah katalog menakjubkan yang pernah ada di muka bumi. Materi pada album ini sedikit sulit untuk di kompare dengan karya mereka sebelumnya The Writing of Gods in the Sand-meski ada beberapa alurnya ada dalam album ini. Ironisnya, band ini mengambil hal-hal yang saya pikir menjadi kelemahan dalam album awal mereka, tapi nyatanya mereka malah membuatnya dua kali lipat lebih dari yang kita pikirkan-mereka membuat materi yang memiliki sentuhan musik Moonsorrow dan October Falls (band yang memiliki kemampuan menavigasi pusaran lagu-lagu dengan durasi panjang mencekam).

Mystical Future mendarat di suatu tempat yang halus dan kasar yang berpotensi menghancurkan, yang tampaknya menjadi sesuatu persis yang Wildernessking ingkinkan. Lalu, apakah kemudian album ini menjadi salah satu rilisan yang paling terbaik di sepanjang tahun ini? Kita lihat saja nanti! Graciassss 🙂

Top 7 Metal Albums 2015

banner2015.jpg

 

Hello folks!

Watca’ doin’ there?  Hope you enjoy this time…

anyway.. langsung saja yah, saya mau share beberapa album metal yang menurut saya paling oke di sepanjang tahun 2015 ini. Mungkin teman-teman sudah ada yang dengar atau menyimak salah satu atau bahkan semua dari album-album tersebut? Silahkan beri komentarnya juga disini sekalian *ngomong sama malaikat di langit* 😛

 

*Check this out my man!!!*

 

7. Ygg huur (Krallice)
Kualitas Colin Marston tidak perlu diragukan lagi bersama Gorguts, pun begitu menurut saya bagaimana ia memainkan perannya di Krallice. Album ini adalah salah satu rilisan yang menyita perhatian saya tahun ini. Beberapa bagian yang mungkin hilang sebelumnya kemudian dilengkapi pada album ini: atmosfir, karakter dan penekanan musik black metal itu sendiri menjadikan album rilisan terbaru mereka menjadi lebih komplit nan elegan.

525089.jpg

1. Idols
2. Wastes of Ocean
3. Over Spirit
4. Tyranny of Thought
5. Bitter Meditation
6. Engram

6. Autumn Eternal (Panopticon)

Setelah mendengar album ini secara keseluruhan, satu hal yang jelas – Lunn jarang terdengar sebergairah ini tentang musiknya berdasarkan interview yang saya lupa waktu itu melihatnya dimana. Inspirasi dari musik klasik hingga ke shoegaze menjadi senjata racikan ke dalam album ini. Satu hal yang mengingatkan kita bahwa energi dan passion pada musik ini tidak selalu datang dari hal-hal buruk.

0006143208_10.jpg

1. Tamarack’s Gold Returns
2. Into the North Woods
3. Autumn Eternal
4. Oaks Ablaze
5. Sleep to the Sound of the Waves Crashing
6. Pale Ghosts
7. A Superior Lament
8. The Winds Farewell

 

5. Luminiferous (High On Fire)

Band yang satu ini telah bekerja keras dengan baik dalam mempertahankan konsistensi bermusiknya, hal itu tak terbantahkan dan kita bisa melihat dari album dan sepakterjang mereka sampai saat ini. Setelah sukses dengan album sebelumnya De Vermis Mysteriis, kini Mike Pike Cs kembali memberikan angin segar lewat album yang tak kalah menariknya Luminiferous. Track seperti “The Cave”, “The Sunless Years” dan “Carcosa” bisa dibilang beberapa track jagoan yang mungkin bisa kamu dengar dalam album ini.

505054.jpg

1. The Black Plot
2. Carcosa
3. The Sunless Years
4. Slave the Hive
5. The Falconist
6. Dark Side of the Compass
7. The Cave
8. Luminiferous
9. The Lethal Chamber

 

4. A Umbra Omega (Dødheimsgard)

Mungkin tidak sedikit dari kita yang tahu bahwa Dødheimsgard adalah satu dari beberapa band yang tersisa dari era black metal gelombang kedua. Fenriz (DARKTHRONE), Apolloyn (AURA NOIR) dan Galder (DIMMU BORGIR) dan (OLD MAN’S CHILD) adalah nama-nama diantara mereka yang berpengaruh didalamnya. Namun pada tahun 1999, mereka memutuskan untuk lebih bereksperimental meski tetap dalam konteks black metal yang sangat kuat. Dan apa yang telah mereka lakukan untuk album ini adalah sebuah kualitas yang sangat apik yang dikemas dalam nuansa yang lebih fresh. Dødheimsgard adalah salah satu band black metal yang paling menarik untuk dinikmati saat ini dan mereka sangat baik dalam membuat tone yang punya idealis karakter, melodrama dan emosi yang tertuang didalamnya serta sebagai pentolan, mereka sangat pantas menjadi influence buat band lainnya.

91v7R9-zEqL._SL1500_.jpg
1. The Love Divine
2. Aphelion Void
3. God Protocol Axiom
4. The Unlocking
5. Architect Of Darkness
6. Blue Moon Duel

 

3. The Anthropocene Extinction (Cattle Decapitation)

Layaknya anggur yang baik, sound mereka tampaknya semakin matang dengan berjalannya waktu. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah apa yang album ini berikan cukup menarik. Gaya musik dan beberapa unsur yang unnatural bisa kita temukan pada album ini. Contoh yang mungkin kita bisa rasakan dibeberapa lagu terdapat unsur seperti black metal (terutama lagu “Apex Blashphemy”), groove metal bahkan sampai unsur melodic death juga dapat kita rasakan disana. Meski sebelumnya tidak sedikit orang yang pesimis dengan album ini karena hal-hal yang tadi, juga karena album mereka yang sebelumnya memang sangat banyak diapresiasikan lantas orang menjudge album ini akan tidak se’wah’ Monolith of Inhumanity. Tapi nyatanya? silahkan nilai sendiri.

512105.jpg
1. Manufactured Extinct
2. The Prophets of Loss
3. Plagueborne
4. Clandestine Ways (Krokodil Rot)
5. Circo Inhumanitas
6. The Burden of Seven Billion
7. Mammals in Babylon
8. Mutual Assured Destruction
9. Not Suitable for Life
10. Apex Blasphemy
11. Ave Exitium
12. Pacific Grim

 

2. Monotony Fields (Shape Of Despair)

Finally akhirny mereka merilis full-album setelah terakhir thn 2004. Album ini bagi ane jelas lebih baik dibanding 3 album terakhir sebelumnya. Monotony Fields bisa dibilang sebuah album masterpiece untuk band funeral doom dengan atmosfir, melankolis, aura doom dan keindahan sound yang di mix jadi satu. Jka kamu duduk di ruang gelap dengan menyalakan beberapa lilin lalu menetap disana beberapa jam dan ternyata kamu menikmati keadaan itu dalam aura atmosfir terawang-awang diantara sound doom yang menyenangkan dimalam hari. Selamat, berarti kamu adalah salah satu penggemar sound funeral doom ala Shape of Despair.

506491.jpg

1. Reaching the Innermost
2. Monotony Fields
3. Descending Inner Night
4. The Distant Dream of Life
5. Withdrawn
6. In Longing
7. The Blank Journey
8. Written in My Scars

 

1. Sleep at the Edge of The Earth (Wilderun)

Seriously… album yang satu ini sangat direkomendasikan banget buat kamu para pecinta musik folk metal. Sejak menit pertama dan terakhir kita disuguhkan atmosfir bak sebuah perjalanan didalam dunia fantasi, intro di awal pada album ini memberikan sebuah tanda bahwa perjalanan panjang telah terpapar luas didepan lewat track pembuka Dust and Croocked Thoughts dan akan diakhiri dengan sebuah tanda penutup yang begitu manis lewat track Sleep at the Edge of the Earth. Passion yang dihadirkan untuk genre bertajuk folk sangat terlihat jelas di dalam penulisan lirik, alur dan proses rekaman pada album ini, sehingga semuanya benar-benar bekerja sebagaimana mestinya dimana pada saat ini kebanyakkan band-band folk metal jarang yang menampilkan konsep novel yang begitu mendalam, sementara Wilderun menampilkan keyakinan tentang hal itu dan lewat sound yang dibungkus dengan unsur symphonic yang menambah kesan folk yang begitu mendalam, yah band asal Boston ini benar-benar serius mendalami genre musik yang mereka ambil. Tiap-tiap elemen folk itu terasa lebih epic dimana instrumen seperti: mandolin, melodica, dulcimer dan banjo melengkapi suara-suara khas folk Wilderun, dan saya tak ragu lagi menempatkan album mereka di posisi teratas ditahun ini. Well done, guys! YOU SHOCKED ME A LOT…!

492322.jpg

1. Dust and Crooked Thoughts (instrumental)
2. And So Opens the Earth (Ash Memory Part I)
3. Hope and Shadow (Ash Memory Part II)
4. Bite the Wound (Ash Memory Part III)
5. The Faintest Echo (Ash Memory Part IV)
6. The Garden of Fire
7. Linger
8. The Means to Preserve
9. Sleep at the Edge of the Earth (instrumental)

 

Oke guys, bagaimana? kira-kira menurut kalian apakah ada album lain yang pantas direkomendasikan sebagai album terbaik tahun 2015 ini selain album-album yang tercantum di atas? ayoo share disini gan… *ngomong sama malaikat lagi* 😛

 

 

GRACIAASSSSSSS ##$$&%^*%%%(

 

Siapa itu Helheim? dan preview album “raunijaR”…

n18719

Courtesy of google

Saya cukup yakin dengan apa yang saya percaya ini bahwa band yang satu ini adalah salah satu band underrated di planet bumi, Helheim. Ya, band asal norwegia ini mengusung tema Viking ke dalam musik mereka dan membalutnya ke dalam musik black metal. Yang saya ketahui, dipertengahan tahun 90an tidak begitu banyak band black metal norwegia yang memiliki latar, sound dan tema tentang Viking yang begitu kental seperti band Helheim. Dan juga, saya yakin tidak banyak band diluar sana yang menggabungkan instrumen Harpa/ kecapi khas orang Yahudi dan tiupan terompet pada latar untuk mempertegas dan memberikan atmosfir mitologi norse yang sangat kuat dan sakral ke dalam musiknya seperti yang telah dilakukan oleh Helheim. Cerita itu berawal di tahun 1992, ketika itu V’gandr dan H’grimnir memiliki satu ide yang sama yaitu membuat musik metal. Namun tidak lengkap rasanya jika memainkan musik metal tanpa seorang drummer, lalu tak lama kemudian kehadiran Hrymr (drum) melengkapi formasi Helheim saat itu. Pada awalnya, saat itu mereka sangat menggebu-gebu akan musik yang mereka ciptakan lalu dibawakan pada acara musik lokal dan meski tanpa banyak pengalaman, mereka tidak takut untuk masuk ke stage. Helheim telah tampil dibeberapa festival di Bergen pada awal karir mereka dengan membawakan beberapa demo yang telah mereka buat (“Helheim”, “Niðr ok Norðr liggr Helvegr”). Helheim telah berusaha semaksimal mungkin dalam melakukan pergerakkannya lewat musik yang mereka usung lewat beberapa demo dan rilisan album yang telah mereka telurkan, serta telah membangun suatu karakter musik yang menggambarkan tentang bagaimana sesungguhnya dunia mereka.

Setelah 20 tahun berjalan dan berkembang, Helheim telah merilis album ke delapan mereka, raunijaR. Mungkin anda tidak pernah tahu apa yang dapat kita ekspektasikan dari setiap rilisan Helheim dan begitupun pada album raunijaR. Dengan begitu, ini saat yang tepat untuk menikmati kembali peluru yang telah mereka ciptakan.

Di satu sisi, bila kita amati konsep album Helheim secara keseluruhan adalah suatu konsep album berkelanjutan dari satu rilis ke rilisan lain; salah satu yang selalu berkembang disini bisa berupa bentuk sound dan juga bagian dalam suatu elemen cerita dalam lirik. Dengan album raunijaR di tahun 2015 ini, kita juga dapat melihat konsep musik yang berkelanjutan itu secara jelas. Misalnya dapat kita dengar pada opening track “Helheim 9” yang jelas berkaitan dengan bagian yang telah dimulai pada album EP Terrorveldet (1999). Di album raunijaR ini juga kita bisa melihat lanjutan quadrilogy “Asgards Fall” yang bagian sebelumnya dapat kita dengar pada album EP Asgards Fall (2010). Dan sesuai dengan konsep album raunijaR ini yang terdiri dari 5 track berdurasi kurang lebih 40 menit, kita seperti disuguhkan full-length album yang berkonsep ‘EP’ dengan mode classy namun tetap dengan materi yang solid.

 

Helheim-2.jpg

Courtesy of google

Apa yang dapat dirasakan pada track “Helheim 9” sebagian besar bertumpu pada clean-guitar yang begitu menonjol. Terutama, sound yang sangat kental dan kuat dari duo pentolan V’gandr (bass/vocal) dan H’grimnir (gitar/vocal). Meski album ini secara keseluruhan memiliki kejemukkan yang kasar-sebagaimana mestinya, mereka nyatanya memberikan sentuhan orkes menyayat lewat pipes angelic (sejenis pipa organ) ke dalam harmonisasi album raunijaR ini dan disini juga saya percaya faktanya bahwa mereka sebenarnya belum memperkenalkan materi dan senjata yang lain yang mereka miliki. Ayo terus disimak?!

Mereka terlihat terus berusaha meng-clean-kan hal itu, dan Viking-choir pada keseluruhan album dapat kita rasakan dalam track-track-nya dan puncaknya dapat kita dengar pada track terakhir “Odr”. Dengan taste yang kurang lebih mirip seperti band black metal Ulver. Vokal berlapis yang terdengar tanpa henti begitu terasa menusuk hingga akhirnya masuk kepada bagian akhir yang diisi oleh violin / piano. Dan disini kita dapat melihat bahwa penekanan vokal pada album ini lebih menonjol dari album mereka sebelumnya.

Dari semua lagu yang ada pada album raunijaR,”Asgards Fall III” dan “Asgards Fall IV” lah yang paling menyita perhatian saya. Tiap kali saya menemukan “Asgards Fall I” dan “Asgards Fall II”, woow.. rasanya seperti saya masuk ke dalam suatu dimensi Viking dalam dunia yang mereka ciptakan, begitu dalam dan gelap. Opening track dibuka dengan sayatan akustik gitar yang menawan, part “III” dari Asgards Fall ini langsung menusuk dengan musik berat ala Bathory lengkap dengan Viking-choirs dan dentuman drum terdengar seperti telah dimulainya genderang perang. Part “IV” melanjutkan bagian sebelumnya yang lebih ditonjolkan dari sisi duet vokalnya yang bisa kita dengar pada part “III”, dan hal ini semakin menunjukkan kebesaran yang kuat akan musikalitas Helheim. Paruh pertama dari track itu dimulai dengan suara drum sebelum nantinya benar-benar berhenti pada titik tengah. Dari sini, kita selanjutnya dapat mendengarkan gemuruh riff gitar yang sedikit lemah dan sepertinya mereka terinspirasi dari beberapa sound Immortal, lalu kesimpulannya aransemen yang mereka buat diisi dengan solo gitar, Viking-choirs, jedah sekmen dengan lirik yang dibacakan seperti suatu doa dan atmosfir kelam yang dibangun dengan sedemikian rupa sehingga kesan gelap yang teramat dalam dapat dirasakan para pendengarnya. Meski terdengar komplit, namun secara musikalitas part “I” dan “II” lebih efektif didengar dalam menjulang ke inti poin.

Selanjutnya, kita harus mengapresiasikan kerja mereka karena sejauh yang saya lihat mereka telah benar-benar keluar dari zona nyaman dan meski mungkin ada dari kalian yang mendengar ada beberapa musik mereka yang belum benar-benar bekerja, tapi bagaimanapun kita tidak bisa membantah bahwa album mereka ini sangat nyaman untuk didengar. Potongan lagu “Asgards Fall” dan “Odr” yang dibuat panjang dan banyak elemen-elemen didalamnya namun tidak seutuhnya rancu.

Dengan hal-hal disamping tersebut, band yang tanpa menggunakan corpse paint ini terus berjalan begitu meyakinkan setelah melewati 2 dekade yang panjang, dan raunijaR adalah bukti lain yang mengisi perjalanan dari kebesaran band ini.

raunijaR (2015)

004886194_500.jpg

Track
1.     Helheim 9     04:30
2.     Raunijar     05:28
3.     Åsgards fall III 12:25
4.     Åsgards fall IV 08:40
5.     Odr     10:27

ARTI YANG TERSEMBUNYI DALAM LOGO BRAND YANG TERKENAL DI DUNIA

Banyak dari kita yang tidak menyadari apa makna sesungguhnya dari logo-logo brand yang mungkin saja dari salah salah produknya adalah favorit kita. Tapi ternyata dibalik logo-logo yang terkenal itu banyak memiliki arti yang tersembunyi, ayo kita simak di artikel ini. 🙂

  1. Beats

1-Beats-662x372

Logo Beats milik Andre Romelle a.k.a DRE ini memang terlihat sangat sederhana. Terlihat disana karakter ‘b’ sebagaimana kita tahu huruf tersebut adalah huruf awal dari produk ini yang tertutup oleh sebuah lingkaran. Lingkaran pada logo itu, bukan lingkaran biasa seperti yang kita pikirkan. Lingkaran itu sebenarnya menggambarkan sebuah kepala manusia, sedangkan karakter ‘b’ tersebut digambarkan sebuah headphones. Maka pada logo tersebut diilustrasikan seseorang sedang menggunakan headphones. Logo ini memiliki artian tersendiri, yaitu memungkinkan penggunanya melihat diri mereka sendiri dalam sebuah headphones.

  1. Cisco

2-Cisco-662x372

Cisco adalah sebuah pemimpin dan perusahaan jaringan internet terbesar di dunia, yang namanya diambil dari letak lokasinya, yaitu di San Francisco. Meskipun nama pada logo mereka tidak memiliki arti yang tersembunyi -‘Cisco’- namun garis-garis berwarna biru yang ada diatas huruf ‘Cisco’ bukan hanya menggambarkan gelombang elektromagnetik, namun menggambarkan sebuah jembatan kebanggaan, The Golden Gate Bridge.

Ditemukan di San Francisco, dan garis-garis biru bukan hanya melambangkan gelombang elektromagnetik, namun juga menggambarkan The Golden Gate Bridge.

  1. Amazon

4-Amazon-662x243

Amazon adalah salah satu tempat bagi kita untuk berbelanja online, dan logo mereka mencerminkan itu. Tanda panah berwarna kuning pada logo tersebut berawal dari huruf ‘a’ dan berakhir pada huruf ‘z’, yang menyiratkan bahwa mereka menjual segala sesuatu dari a-z. Tanda panah itu juga menggambarkan sebuah senyuman. Senyuman itu mengindikasikan kebahagian yang dirasakan oleh orang-orang ketika mereka berbelanja di Amazon.

  1. Baskin Robbins

Baskin-Robbins-logo-Horizontal-662x350

Baskin Robbins adalah es krim yang dikenal dengan rasa yang tak terbatas (31, angka yang terselip ditengahnya). Dibalik angka terkenal itu tersembunyi dalam logo ‘B’ dan ‘R’ pada logonya, dimana ‘B’ adalah kurva dan ‘R’ adalah batang. Tersirat arti sebuah kesenangan dan semangat dalam logo tersebut, seperti bagaimana perasaan anda disaati sedang atau sesudah menikmati es krim mereka.

  1. Roxy

6-Roxy-662x455

Roxy adalah produk khusus wanita yang diproduksi oleh Quiksilver. Untuk menarik para konsumen wanita, mereka menggunakan gambar hati sebagai logo. Menggambarkan sebuah inspirasi dari bentuk feminin dan konotasi arti dibelakangnya. Ini bukan gambar hati biasa – yang menarik sebenarnya adalah logo Roxy tersebut terdiri dua logo Quiksilver yang digabungkan menjadi satu pada bagian ujungnya.

  1. Vaio

7-Vaio-662x182

Sony Vaio, aka Visual Audio Intellegent Organizer, dikenal semua orang yang adalah suatu teknologi, namun tidak semua orang tahu arti sesungguhnya dibalik logo tersebut. Pada logonya, Vaio menggambarkan sebuah penggabungan teknologi analog dan digital dalam produk. Tulisan ‘va’ dibuat untuk menggambarkan gelombang analog, sementara ‘io’ menyerupai angka 1 dan 0 yang mengartikan sebuah sinyal digital atau kode biner.

  1. Picasa

8-Picasa-662x234

Picasa adalah sebuah alat penyusun dan editor gambar pada Google, yang memiliki logo menarik. Sekilas logo tersebut tampak seperti katup lensa kamera sederhana, tetapi tahukah kamu bahwa lubang yang terletak ditengah logo tersebut adalah suatu bentuk bangun rumah. Hal itu yang berarti bahwa Picasa adalah ‘rumah’ untuk semua photomu, dan casa dalam bahasa spanyol ialah rumah.

  1. Museum of London

9-Museum-of-London-662x486

Museum of London memiliki bentuk logo dasar yang menarik. Bagian-bagian dari warna tersebut sebenarnya menggambarkan sesuatu, meskipun, dan tidak hanya diabstraksikan dengan sebuah gumpalan warna. Logo tersebut menunjukkan kondisi geografis London dan bagaimana ia berubah dari waktu ke waktu, mengindikasikan perubahan konstan/ terus-menerus dari London dan penduduknya di masa lalu, sekarang dan masa yang akan datang.

  1. Eighty 20

007.Blog-Yayin-—-GizliAnlamlarıOlan15MeshurLogo-—-Eighty20…-662x267

Meskipun kamu adalah seseorang yang pandai dalam mata pelajaran matematika, kamu mungkin tidak akan bisa menebak arti dibalik logo Eighty 20 (Konsultasi Analisis Afrika Selatan). Kotak-kotak tersebut sebenarnya mewakili pola biner untuk 1010000 dan 0010100, yang berarti 80 dan 20.

  1. London Symphony Orchestra

11-London-Sympony-Orchestra-662x377

Logo dari London Symphony Orchestra tidak hanya dapat diartikan sebagai inisial ‘LSO’, tapi juga menggambarkan seorang pemimpin orkes. Logo yang elegan tersebut (seperti sebuah goresan) sejatinya menambah keeleganan dari music orkestra mereka. Bentuk apakah yang pertama kali anda lihat?

  1. My Fonts

12-My-Fonts-662x329

My Fonts adalah tempat akses online berbagai jenis font, yang memungkinkan pengguna mengakses sejumlah font. ‘My’ dalam logo My Fonts dibentuk seperti gambar sebuah tangan, ini memberikan kesan kepada pengguna bahwa dengan meraih tangan mereka pengguna dapat menggunakan font apa saja yang mereka inginkan.

  1. Le Tour De France

13-TDF

Logo The Tour de France memiliki dua pesan tersembunyi didalamnya. Tanda yang pertama mungkin sedikit lebih jelas, terlihat pengendara sepeda pada huruf ‘r’, tapi tanda yang kedua terlihat lebih sedikit kalem. Lingkaran kuning pada logo yang merupakan roda dari sepeda ternyata juga adalah lambang dari matahari, yang mengindikasikan bahwa perlombaan ini hanya berlangsung pada siang hari.

  1. AG Low

14-AG-Low-662x374

AG Low adalah sebuah perusahaan konstruksi, yang memiliki logo sederhana, sebuah logo yang terambil dari ejaan nama perusahaan – dengan cara yang unik. Logo tersebut tertata seperti sebuah gambar denah rumah.

  1. Galeries Lafayette

15-Galeries-Lafayette-662x279

Galeries Lafayette adalah sebuah pusat perbelanjaan kelas atas di Perancis. Bukan hanya tipografinya yang terlihat elegan dan mewah, namun menara Eiffel tersembunyi dalam huruf ‘tt’ pada logonya, yang menguatkan kesan Perancis-nya.

  1. Newman

newman-Raymond-Loewy-web

Kesan ketika pertama kali melihat, logo perusahaan pakaian Perancis ini tidak memperlihatkan kesan terobosan. Namun ia memiliki sedikit trik visual. Jika kamu melihat lebih dekat, kamu bisa membaca logo tersebut dari 2 arah yaitu dapat dilihat dari sisi atas dan sisi bawah. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan tersebut sangat inovatif dan produk mereka dapat berfungsi keberbagai macam tujuan.

  1. Greenlabs

green-brain-logo-5

Greenlabs ialah sebuah perusahaan pemasaran dan web solusi digital, menggunakan sebuah pohon sebagai logo mereka. Ini menonjolkan aspek ‘green’ sebagai bentuk ramah lingkungan dari brand mereka, lalu bagaimana dengan labs? Mahkota pada bagian atas pohon adalah sebuah otak, yang mewakili para karyawan mereka yang cerdas.

  1. Bird Love

18-Bird-Love

Logo kedai kopi Vietnam ini sangat sederhana. Berwarna hitam dan putih, dengan jenis huruf klasik serif, dan simbol hati disana yang berarti bersih. Hal ini mencerminkan integritas mereknya dan ini didedikasikan kepada kopi klasik Vietnam, sebagaimana cinta dan gairah mereka terhadap kopi. Ada dua burung terbang terdapat pada gambar hati di logo tersebut, yang sesuai dengan nama mereknya.

  1. Yoga Australia

girl-logo-yoga-australia-39

Logo Yoga Australia memiliki permata kecil yang tersembunyi di dalam celah ruang pada logonya. Di dalam area lengan dan kaki yang sedang bersentuhan itu terdapat peta geografis Australia.

  1. Lion Bird

24-Lion-Bird

Logo ini adalah salah satu kejeniusan manipulasi visual. Apakah kamu melihat gambar seekor burung, atau singa pada logonya ketika melihat gambar ini pertama kali? Ya, keduanya ada disana, meskipun gambar singa cenderung lebih minimalis. Dengan wajah yang tersusun dari tubuh burung, ketika mata anda melihat dari sisi kosong pada luar bagian tubuh burung. Singa melambangkan suatu serangan dari brand mereka dan burung melambangkan kekuatan mereka.

  1. Spartan

26-Spartan

Logo ini milik The Spartan Golf Club yang memiliki arti ganda. Ketika kamu melihat dari satu sisinya, kamu mungkin dapat melihat seorang pemain golf sedang mengayun stik golf-nya, dengan sebuah bayangan lintasan yang berada disampingnya. Jika kamu melihat dari sisi lainnya, kamu dapat juga melihat profil Spartan pada helmnya.

  1. Apple

40-Apple1

Salah satu logo yang paling terkenal didunia, logo Apple berteori dari cerita yang tak lain dan tak bukan yaitu kisah tentang Adam dan Hawa. Buah didalam kisah tersebut diindikasikan oleh mereka dengan buah Apel yang memiliki bekas gigitan Hawa, yang merupakan buah dari pohon pengetahuan. Steve Jobs juga adalah salah satu penggemar Isaac Newton.

  1. Google

41-Google-662x250

Logo lain yang juga sangat dikenali di dunia adalah Google. Logo ini melambangkan bahwa mereka bermain tanpa aturan dan batasan, dan juga tahu caranya bersenang-senang. Mereka memilih menyampaikan sebuah pesan yang berwarna alias beranekaragam informasi.

  1. Adidas

46-Adidas

Adidas adalah merek aparel olahraga ternama di dunia yang berasal dari Jerman. Tiga garis selalu menjadi bagian dari logo mereka, tetapi pada desain ulang terbaru mereka tampak garis-garis yang berjejer seperti sebuah gunung. Gunung tersebut menggambarkan suatu tantangan dan kendala yang harus dihadapi dan diatasi oleh seorang atlet.

Sumber : Klik disini

Sir Christopher Frank Carandini Lee (1922-2015)

Christopher Lee "Cinema for Peace" Gala im Rahmen der 54. Berlinale - Filmfestspiele Berlin -im Konzerthaus in Berlin am 09.02.2004 People Image (c) Gisela Schober

Well guys, setelah vakum beberapa waktu, kali ini saya dating dengan berita duka… well, kita semua tahu bahwa panggung hiburan dunia harus kembali kehilangan sosok terbaiknya yang sering menjadi aktor antagonis di setiap sekuel film yang dilakoninya, ya siapa lagi kalau bukan aktor kawakan asal tanah Britania Raya Sir Christopher Lee. Menurut laporan dari media kabar, ia meninggal di rumah sakit Westminter di London akibat gangguan pernapasan dan gagal jantung.

Beliau yang lahir di Belgravia, London pada tanggal 27 Mei 1922 ini berasal dari keluarga yang berasal dari beranekaragam profesi, dimulai dari sang ayah Geoffrey Trollope Lee yang berprofesi sebagai angkatan yang juga terlibat dalam perang dunia pertama (World War I), lalu kakek buyutnya adalah seorang politikus yang berasal dari Italia sedangkan nenek buyutnya Marie Carandini adalah seorang penyanyi opera. Ia hanya memiliki 1 saudara perempuan, Xandra Carandini Lee (1917-2002).

Dan perlu diketahui bahwa Sir Christopher Lee ini adalah salah satu saksi mata dan orang yang terlibat dalam perang dunia kedua (World War II) loh guys, sosok fenomenal, ia mungkin ingin mengikuti jejak sang ayah menjadi seorang angkatan walau pada akhirnya ia lebih menonjol dalam dunia seni peran, dan ia juga adalah satu-satunya aktor dalam film karya Peter Jackson The Lord of the Rings dan The Hobbit yang pernah bertemu langsung dengan sang penulis novel The Middle-earth J.R.R Tolkien.

Di tahun 1946, waktu itu ia sedang menikmati santap siang sambil menceritakan pengalamannya ketika berada pada perang Wounds kepada sang sepupu Nicolo Carandini yang juga seorang delegasi Italia untuk Britania Raya, dan sepintas sang sepupu bertanya kepada Christopher Lee “Kenapa kamu tidak menjadi seorang aktor saja, Christopher?”, lalu Christopher Lee menyukai dan menyetujui saran sang sepupu. Kemudia ia bertemu dengan Fillippo Del Giudice seorang produser film, ketika Giudice bertemu Christopher, ia kira-kira berkata begini “wah.. lihatlah dia, inilah yang industry kita cari selama ini.” Ketika itu Christopher lalu dipertemukan kepada Josef Somlo untuk menandatangani kontrak. Pada akhirnya ia memerankan debut film pertamanya dalam fiom “Terence Young’s Gothic Romance Corridor of Mirrors” (1947) memerankan tokoh Charles. Lalu di tahun berikutnya, ia juga terlibat dalam film karya Laurence Oliver yang berjudul “Hamlet” (1948) sebagai Spear Carrier. Dan kemudian masih banyak lagi film-film yang melibatkan dirinya setelah itu.

Dalam tulisan kali ini, saya ingin mengulas sedikit film-film terbaik yang pernah ia perankan. Oke langsung saja

Dracula (1958)

151499

Film ini diproduksi oleh Hammer Film di Bray Studios pada 17 November 1957 yang teinspirasi dari novel yang berjudul sama karya Bram Stoker. Di Amerika, film ini diubah judulnya menjadi Horror of Dracula karena untuk mencegah kebingungan dengan film Dracula pada tahun 1931 yang pernah muncul sebelumnya. Di film ini Christopher Lee berperan sebagai tokoh antagonis bernama Count Dracula. Serem??!!

Star Wars Series (2002, 2005, 2008)

151498

Film yang menceritakan tentang galaksi di luar angkasa ini sangat popular di era sekarang ini. Christopher Lee berperan sebagai Count Dooku di film Star Wars Episode II: Attack of the Clones (2002) dan Star Wars Episode III: Revenge of the Sith. Christopher Lee juga berkontribusi dalam film animasi Star Wars: The Clone Wars (2008) sebagai pengisi suara dari Count Dooku.

The Lord of the Rings Trilogy (2001-2003)

151500

Mungkin teman-teman lebih mengenal Christopher Lee dalam film ini. Christopher Lee memerankan sosok penyihir jahat yang bernama Saruman di ketiga seri film ini dan beliau pernah masuk nominasi dan memenangkan penghargaan individu berkat perannya sebagai Saruman. Film yang terdiri dari 3 judul, The Lord of The Rings: Fellowship of the Ring (2001), The Lord of the Rings: The Two Towers (2002) dan The Lord of the Rings: The Return of th King (2003) ini sempat menjadi film yang populer dengan memenangkan beberapa penghargaan.

The Hobbit Trilogy (2012-2014)

151501

Film prekuel dari ketiga seri the Lord of The Rings ini terdiri dari The Hobbit: An Unexpected Journey (2012), The Hobbit: The Desolation of Smaug (2013) dan The Hobbit: The Battle of the Five Army. Christopher Lee tetap berperan sebagai penyihir antagonis Saruman. Beliau hanya ikut berperan dalam seri The Hobbit: An Unexpected Journey dan The Hobbit: The Battle of the Five Army.

 

 

Charlie and the Chocolate Factory (2005)

151502

Film yang bercerita tentang pemilik cokelat ini, Christopher Lee berperan sebagai Dr. Wilbur Wonka. Ia adalag seorang ayah dari tokoh utama pada film ini, Willy Wonka yang diperankan oleh Johnny Deep.

Selain itu, beliau juga memiliki beberapa album studio, diantaranya;

Dan dari karya-karya musiknya, ia juga pernah di anugerahi dengan penghargaan “Spirit of Metal” pada perayaan Metal Hammer Golden God Awards Ceremony di tahun 2010. What a LEGEND!!!

Itulah beberapa karya-karya terbaik yang pernah diperankan maupun di ciptakan oleh Sir Christopher Lee, guys. Semoga kita semua dapat mengenang kembali sang aktor dengan menonton kembali film yang diperankan oleh seorang Sir Christopher Lee. Rest in Peace Legend Christopher Lee (27 Mei 1922 – 7 Juni 2015).

“Raganya boleh tiada, namun karya-karyanya akan selalu dikenang…” ~ Joe

3vXgmPY

HAMMERSONIC 2015 (CONCERT REVIEW)

artwork-flyerCourtesy of Google

Hoammm… well well, rasanya engga mau bangun dari tidur sejak acara Hammersonic berakhir waktu itu, tapi yah harus tetap Move On hihihiii… *Peace*

Kali ini saya mau share sedikit mengenai acara musik festival yang saya hadiri minggu lalu tepatnya pada tanggal 8 Maret 2015. Yah, kita semua tahu bahwa festival ini adalah salah satu pesta anak metal sejagad raya yang puaaaling terbesar (untuk saat ini) di bumi pertiwi dan ‘katanya’ juga se-Asia Tenggara. Tidak banyak berubah, acara kali ini juga bisa dibilang serupa dengan acara Hammersonic sebelumnya. Bisa dibilang acara ini adalah hari raya besar para metalhead setanah air yang rindu akan kehadiran sosok-sosok band kesayangannya 🙂 So, I would like to thank for all crew Hammersonic, good works mate! ya walau masih banyak yang harus dibenahi kedepannya.

Untuk keempat kalinya saya bisa hadir di acara Hammersonic ini, saya merasa beruntung karena mungkin masih banyak temen-temen disana yang engga bisa ikutan dan saya doain supaya di acara berikutnya bisa ikut bergabung, Amen!!!! Oke, misi saya kali ini dateng ke Hammersonic adalah ingin melihat beberapa penampilan dari band-band yang tercantum pada headliner, seperti; Avulsed, Warbringer, Vader dan Mayhem. Namun sangat disayangkan sekali karena ketika kereta Avulsed berjalan, saya tertinggal dan tidak bisa ikut bersukaria bersama mereka :(. Padahal jauh-jauh hari ketika saya telah mengetahui rundown  acara tersebut, saya sudah menyetting jadwal untuk menonton Hammersonic sejak penampilan Avulsed setelah break, namum apadaya karena keterlambatan saya dan juga ketika saya pertama kali sampai di lokasi, awalnya saya ikut mengantri diluar bersama ratusan mungkin tepatnya ribuan antrian yang mengular yang menghabiskan kurang lebih 20-25 menit, namun setelah mendengar instruksi dari panitia yang mondar mandir yang memberitahukan bahwa yang memiliki e-ticket online bisa langsung masuk melalui gate dipojokkan. Well, saya langsung menuju gate tersebut dan dengan tidak sabar untuk memasuki area festival.

Ketika saya telah memasuki area festival (yang sedikit becek, sama seperti tahun lalu), tepat pada saat itu juga band yang saya tunggu-tunggu telah menyudahi penampilannya, mereka adalah Avulsed, band beraliran death metal asal negeri matador. Kekecewaan saya akhirnya di sembuhkan oleh John Kevill dkk. Yap, punggawa band thrash metal asal Ventura tersebut seketika menarik perhatian saya dan tanpa basa basi langsung membawakan lagu andalan mereka “Severed Reality” pada panggung Sonic Stage. Diisi oleh muka-muka baru seperti; Alex Malmquist (bass), Noah Young (gitar), Vicken Hovsepian (drum), mereka memberikan penampilan yang sangat menghibur para audience. Setelah lagu “Hunter-seeker” selesai dinyanyikan, Kevill mengajak para metalhead yang memadati area penonton untuk bersapa sejenak, dengan ramah ia menanyakan kabar dan sambil bercanda. Setelah itu, dentuman drum ala hardcore punk langsung memberikan tanda bahwa lagu “Scars Remain” akan melanjutkan pesta pada malam itu. Saya takjub dengan gaya bermain gitarnya, musik thrash mereka begitu melodius namun dengan style raw. Lagu berikutnya ada “Demonic Ecstasy”, “Towers of the Serpent” dan “Living in a Whirlwind” sebagai lagu perpisahan dari mereka pada malam menabjukan waktu itu. Energi saya seakan terbius dan bertambah setelah menyaksikan penampilan menghebohkan dari Warbringer dan tak sabar untuk menantikan penampilan dari band yang lainnya.

IMG_1551Warbringer on Sonic Stage

Ketika Deathstars tampil, saya melewatkannya karena saya kurang begitu tertarik menyaksikan penampilannya. Di situ saya berkeliling area sembari mencari makanan ringan. Setelah itu, Ignite tampil dengan membawakan beberapa lagu yang saya dengar seperti; “Let It Burn” dan “Fear is Our Tradition”. Menyambung ke band yang saya nantikan selanjutnya, yappp.. mereka adalah Vader, meski sound terdengar sedikit missed tapi tidak mempengaruhi penampilan dari Peter (Vokal/ Gitar), Marek Pająk ‘Spider’ (Gitar), Hal (Bass) dan James Stewart (Drum). Lagu-lagu seperti “This is the War”, “Go to Hell”, “Armada on Fire”, “Wings”, dan “Triumph of Death” membuat saya sangat menikmati malam itu, dan walau salah satu lagu favorite saya “The Eye of the Abyss” tidak ditampilkan pada malam itu, tidak mengurangi kepuasan saya dan ingin sekali rasanya suatu saat nanti mengundang mereka tampil kembali dalam pagelaran tur di waktu yang akan datang.

IMG_1566Vader on Hammer Stage

Selanjutnya penampilan dari Unearth, Faceless dan Terrorizer sedikit terlewatkan karena saya ingin bersantai sejenak sambil menunggu penampilan dari pentolan black metal asal negeri norse, Norwegia, yap mereka adalah yang mulia Mayhem. Ini adalah kesempatan pertama saya bisa menyaksikan penampilan mereka secara langsung dan bagi saya, penampilan mereka adalah penampilan terbaik sepanjang saya menyaksikan acara Hammersonic kali ini bersama Warbringer. Attila Csihar membuka ritual dengan membawakan lagu “Deathcrush” dan seketika set panggung terasa gelap dengan Csihar sebagai kepala ritual pada saat acara berlangsung tampil dengan berdarah-darah ditemani oleh miniatur tengkorak dan tali gantungan yang menambah kengerian penampilan Mayhem. Hentakan dan harmoni lagu sangat terasa sakral dan begitu menyayat ke tulang. Adapun penampilan Teloch sang gitaris pada malam itu yang berada dibalik jubah hitam menyerupai seorang Nazgul yang mengingatkan saya akan raja-raja yang menjadi budak Sauron dalam cerita The Lord of the Rings. Tak ayalnya sebagai seorang pemimpin, Csihar mengajak para metalhead untuk ikut beribadah bersama mereka. “My Death” juga turut dibawakan oleh mereka malam itu, dan teatrikal kematian seakan menjadi background keseluruhan panggung mereka yang membuat acara malam itu semakin gelap. Persembahan-persembahan mereka pada malam itu berlanjut dengan menampilkan lagu-lagu seperti “Illuminate Eliminate”, “De Mysteriis Dom Sathanas”, “Chainsaw Gutsfuck”, “Freezing Moon”, dan sebagai penutup ada “Pure Fucking Armageddon”

IMG_1608Mayhem on Hammer Stage

IMG_1610Teloch (Gitaris Mayhem)

Akhirnya perhelatan pada malam itu ditutup oleh band groove metal asal Richmond, VA, Lamb of God. Walaupun, saya tidak begitu menantikannya, namun penampilan mereka sangat menarik, belum lagi ditambah antusias para penonton yang terhipnotis memadati area seketika mereka membawakan lagu pertama mereka “Desolation”. Di ikuti lagu berikutnya yaitu “Ghost Walking” dan saya hanya mengikuti pertunjukkan mereka sampai lagu “Hourglass” karena malam sudah begitu larut dan juga esok harus kembali beraktivitas.

Dan.. FYI, pada acara kali ini saya juga kembali ditemanin oleh sang kekasih (untuk ketiga kalinya secara berturut-turut sejak tahun 2013 kami menghadiri festival ini bersama-sama) dan pada malam itu dia sangat antusias sekali menunggu Lamb of God :), tanyakan saja padanya kalau engga percaya :p.

Oke, kali ini sampai disini dulu yah.. semoga tulisan saya yang (amat) blepotan ini bisa diterima sama temen-temen. jajajajaja :p

lanjut tidurrr lagi ahhhhh :p >.<

Hidden Evolution by Angelus Apatrida (Album Review)

Hello guys all around the internet… hope you guys enjoy in your time, everywhere and anywhere.. whatever.. meh!!!

jajahajaa..

Oke, sebelumnya saya ingin mengucapkan Heavy Nu Year buat para pembaca (itupun kalau ada hikz..), yah.. meskipun sepertinya superb telat banget ini ngucapinnya :p malah udah bulan yang kedua ini mah!!! weleh weleeehhh *skip skip skip*

Oke, berhubung saya lagi ndak sibuk.. saya mau review album baru nih, albumnya sih udah dari bulan januari kemaren, tapi gapapa lah yah… masih anget kok! :p

Check this out beibehhh

Angelus-Apatrida-album

Track List:

  1. Immortal
  2. First World of Terror
  3. Architects
  4. Tug of War
  5. Serpents on Parade
  6. Wanderers Forever
  7. End Man
  8. Speed of Light
  9. I Owe You Nothing
  10. Hidden Evolution
  11. Highway Star (Deep Purple Cover)

Ok.. dari cover di atas.. mungkin udah ada yang bisa nebak kalau band ini mengusung genre apa? ya kan? kalau boleh jujur… saya yakin para metalhead yang membaca tulisan saya setuju kalau rata-rata penikmat musik keras pasti menyukai bit dan riff musik Thrash Metal yang di kenal lewat BIG FOUR ini, entah itu penikmat musik Death Metal, Power Metal bahkan sampai Black Metal sekalipun… ya kan? Oke, bukan itu yang menjadi topik utama kali ini.. cuma berhubung band yang akan kita bicarakan ini adalah band Thrash Metal (Yah, intermezzo sedikitlah yah… CMIIW).

Cerita sedikit, Angelus Apatrida ini adalah band Thrash Metal yang berasal dari negeri matador, Albacete. Kota Albacete ini letaknya kira-kira 262 kilometer dari kota Madrid dan letaknya persis berada di sebelah tenggara kota Madrid tersebut. Kalau bicara bola, pasti saya yakin udah tahu lah yah bagaimana maju pesatnya perkembangan sepak bola di daratan spanyol ini, tapi kali ini saya ingin menekan kan juga bahwa pergerakkan musik metal disana juga ternyata engga kalah majunya dengan musik metal di daratan eropa lainnya bila di lihat dari segi kualitas dan segalanya. Sebut saja band seperti Dark Moor, Soulitude, Avalanch, Runic, Dragonfly, Avulsed (yang akan ikut meramaikan perhelatan Hammersonic bulan maret besok) dan masih banyak lagi, bahkan sampai band yang akan kita bicarakan disini, Angelus Apartida. Mereka kini tampil secara lebih universal menunjukkan bahwa musik metal spanyol juga patut diperhitungkan. NOTED!

Jika disini ada dari kalian yang setuju dengan pernyataan saya di atas, maka saya rekomendasikan untuk mendengar album dari band Angelus Apatrida Hidden Evolution yang mereka rilis pada bulan januari tahun ini.

Mengikuti kesuksesan album ketiga mereka yang rilis pada tahun 2010 Clockwork, band yang terbentuk awal tahun 2000an ini juga kembali memberikan sentuhan garang pada album Hidden Evolution ini. Guillermo Izquierdo “Polako” Cs ternyata paham betul dengan musik yang mereka usung, sehingga sentuhan musik yang mereka ciptakan ini benar-benar terasa sekali denyutan kesesakan ala Thrash Metal yang bagaimana semestinya. Riff gitar yang balance, solo yang begitu mengesankan hingga dentuman drum yang di balut oleh gaya hardcore punk dengan tempo cepat menambah lagu menjadi terdengar menyemangati para pendengarnya. Album ini benar-benar terdengar 100% Raw, saya sangat mengapresiasikan kerja keras Guillermo Izquierdo di posisi gitar dan vokal yang mengkombinasikan vokalnya dengan teriakkan kemarahan dan tone vokal ala Hetfield (menurut pendengaran saya pada lagu “Architects” :P) lalu di sokong oleh suara gitar Thrash Riffing Mr. David G. Álvarez.  Memang sih, dari beberapa review yang saya baca, sang vokalis banyak di pengaruhi oleh gaya vokal lain dan meskipun begitu ia tidak mempermasalahkannya. Contohnya seperti gaya vokal Matt Barlow (debut album), Chuck Billy (Album Give ‘Em War) and Dave Mustaine (Album Clockwork) telah di adopsi oleh Guillermo ke dalam musik mereka. Tetapi dalam album baru ini, Guillermo lebih banyak mengimprovisasikan gaya vokal sendiri meskipun masih ada sedikit terdengar style Mustaine dan Hetfield di dalamnya.

Gaya musik Metallica, Annihilator, Testament, Anthrax, Judas Priest dan Megadeth di mix jadi satu oleh mereka ke dalam album ini, dengan track-track sadis seperti “End Man”, “Architects” dan pastinya dengan track super cepet “Serpents On Parade” akan soap mengoyak telinga anda semua, oh iyah… dan juga ada track cover ‘Highway Star’ bagi pecinta band Hard Rock Deep Purple dengan aransemen yang akan memanjakan tidur malam anda. *blushiiiiiiiiiiiiiiing*

Kini kerja keras mereka terbayar sudah, dengan banyak mengikuti kesuskesan album sebelumnya Clockwork. Víctor Valera (Drum), José J. Izquierdo (Bass), Guillermo Izquierdo “Polako” (Gitar/Vokal) dan David G. Álvarez (Gitar) akan siap untuk menghadapi tantangan selanjutnya demi memuaskan hasrat para metalhead di dunia Thrash Metal. Saya rasa 4.8/5 adalah nilai yang pantas diberikan kepada album fantastis ini. Well, good work guys!!!